Senin, 20 Juli 2015

Perjakaku Direnggut Ayah

http://asikb.blogspot.com/2012/08/cerita-asik-2-ayahku-gay-gay.html#ixzz3gTp8ZLLX

Baru saja aku pulang dari makan-makan bersama teman-teman SMP merayakan ulang tahunku yang ke 25. Tiba-tiba teringat satu kisah. Ini ceritaku dan terjadi sepuluh tahun yang lampau. Waktu itu aku masih bocah yang ingin tahu segalanya.

Ibuku adalah pengurus Dharma Wanita yang sibuk ditambah sebagai pejabat di beberapa yayasan. Ayahku adalah ayah tiri yang menikahi Ibu saat aku berumur 5 tahun. Aku memanggilnya Pa'cek. Ayahku orang yang ganteng dan berwibawa. Meskipun dengan Ibu tidak memiliki keturunan, namun beliau tidak menceraikan Ibu. Sadar diri kalau dia yang mandul. Aku anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakakku wanita semua dan pada saat itu kakakku sudah tidak tinggal di rumah. Dua orang sudah menikah sedang kakakku tepat di atas sedang kuliah di Jawa.

Menjadi anak tunggal di rumah ada enak dan tidak. Ayahku sangat sayang dan memanjakanku. Kalau dia mendapat rejeki dia selalu membelikan apa saja yang kuminta. Aku mendapat TV dan VCD di kamarku sendiri. Justru ibu kandungku yang sering protes. Memang efeknya aku jadi jarang belajar dan agak bandel. Meskipun demikian ibuku tidak bisa berkutik karena tiap semester aku selalu berada dalam 10 besar terbaik meskipun bukan yang nomer 1.

Aku sering mendapat pinjaman VCD bokep dari teman-teman SMP kadang bahkan anak SMA kenalanku.  Aku menonton di komputer di kamarku. Alasanku lebih mudah diklik dan aman. Orangtuaku jarang  di rumah.  
Namun hari itu aku benar-benar ceroboh atau mungkin sial. Hari itu aku tidak  menonton bokep di komputer tetapi di VCD. Aku ingin gambar yang lebih lebar, pikirku.
"Alfond!!" tiba-tiba ayahku sudah di dalam.
Mati aku! Kok bisa masuk? Padahal... ah aku lupa mengunci pintu. Untung saja aku tidak sedang onani. Tapi tetap saja gambar orang yang sedang bersanggama tidak bisa hilang sekali klik. Mana remote entah kemana lagi... Aku panik. Aku tidak cepat menemukan remotku.
"Sudah, sudah. Kalau mau nonton ya nonton saja. Kamu kan sudah besar..."
Aku masih menduga-duga kemana keinginan Ayah. Walau Ayah sangat memanjakan dan tak pernah marah namun ini mungkin akan lain.
Ayah masuk dan menutup pintu lalu menguncinya. Dia duduk di kasurku dan ikut menonton. Ayah diam akupun diam. Terkadang aku melirik mata ayah yang seakan sedang menonton film biasa. Kucoba tenang seperti Ayah. Namun aku tetap saja tidak tenang karena ada Ayah waktu itu. Setelah beberapa lama kami dalam diam, aku merasa bosan dan makin gelisah saja.

"Fond, kamu tahu tidak, perkakas Pa'cek lebih besar dari itu..." katanya dengan muka serius.
Aku memandang tidak percaya dengan perkataan yang baru saja kudengar. Aktor porno yang di VCD sebesar perkakasku 17 cm 4 cm. Aku sudah bangga karena di antara teman-temanku, perkakasku tampak paling besar. Aku sering sombong bahwa ukuran perkakas menentukan kepandaian. Tentu saja itu sangat tidak berdasar.
"Owh ya?" kataku asal saja tidak tertarik.
Aku sama sekali tidak melirik ke gundukan di selakangan. Aku lebih tertarik milik wanita. Ayah membiarkanku mengira-ngira dan tampaknya memang besar. Perkakas Ayah kandungku juga pasti besar buktinya aku keturunannya. Ayah tiriku tidak ada pertalian keluarga dengan almarhum ayah. Tetapi entah bagaimana Ibu begitu beruntung selalu mendapat pria dengan kemaluan yang besar. Ah pemikiranku terlalu jauh sampai ke asal-usulku.

Waktu itu aku yakin aku normal. Aku lebih suka menonton payudara dan vagina yang memerah. Aku suka lihat lekuk tubuh perempuan. Sekarang pun begitu. Namun peristiwa berikut ini telah mengubahku. Mengubah hidupku.
Wajah Ayah tiba-tiba mendekat lalu mencium pipiku. Kurasakan pipinya yang kasar dan aroma foam bercukur yang begitu maskulin. Bukan ciuman singkat tapi lebih ke .... ah aku tidak mengerti cara untuk menggambarkannya. Dia memelukku dengan erat dengan lengan yang kekar dan bisep yang menonjol. Aku meronta minta dilepas.

Meski sewaktu kecil Ayah tiriku sering memeluk dan memangkuku namun aku tidak suka dipeluk sekarang. Aku sudah besar bukan anak kecil lagi. Pelukannya juga lain. Nafasnya mendengus dan agak memaksa. Aku meronta namun apa daya badan kekar Ayah menelikungku sehingga aku yang kurus ini tak bergerak. Ayah semakin bernafsu dia menyedot dan mengulumi bibirku. Rasanya manis terasa nikotin Ayahku di mulutku.
"Pa'cek jangan. Jangan yo..." pintaku sambil terus meronta.
Entah bagaimana aku sudah telanjang bulat. Bahkan dengan badan yang masih ditindih begitu.  Perkakasku yang sedari tadi menegang karena rangsangan video bokep menjadi lemas.  Namun Ayah tidak peduli dan tetap menciumi tubuhku. Menjilati leherku. Bahkan menggigit putingku.
Aku terus meronta sampai berkeringat. Rasa takut mulai menjalariku. Rambutku basah. Matakupun terasa mulai basah. Aku merasa sangat benci dengan Ayah. Aku sangat jijik dengan ciuman-ciuman itu. Geli saja rasanya.
"Jangan ya Pa'cek...." antara takut tetapi mulai penasaran.
Ayah membuka resleting dan memelorotkan celana. Segera tampaklah perkakas Ayah yang superbesar  itu. Suatu kali di lain waktu aku pernah mengukurnya, 20 cm panjang dan hampir 4,5 cm tebal nya. Aku kalah besar. Di sekitar perkakasnya tampak rambut yang lebat.
"Aaahhh..." Ayahku melenguh pelan dan tersenyum tampak menikmati.
Kini badan Ayah yang kekar menindihku. Badan Ayah berotot dan perutnya sixpack. Dia memang rajin ke gym dan renang. Di perutku terasa perkakasnya yang keras mengganjal digesekkan dengan keras. Aku merasa takut dengan yang Ayah akan lakukan.Tiba-tiba saja ayah mulai mengelusi  badanku. Pungggungku, dadaku, lalu pantatku. Aku tidak menyangka sama sekali kalau ayah  menginginkan menusuk aku. Duh!
Aku mengalihkan badanku menjauh dari jangkauan Ayah. Terutama anusku yang dia inginkan. Aku membalik badanku dan menutupi perkakasku dan mataku. Aku merasa malu melihat Ayahku telanjang bulat begitu di depanku. Dia menciumi bibirku. Lidahnya mencoba menerobos deretan gigiku. Ludahnya terasa membasahi bibirku.  Aku merasa sesuatu yang enak tapi sama sekali tak terpikir olehku untuk merespon.
Nafas Ayah mendengus-dengus keras tanda nafsunya sudah terbakar. Dia menciumiku berkali-kali lalu berbalik menindihku. Dia memegang kedua lenganku lalu menggosok-gosokkan perkakasnya ke perkakasku. Entah mengapa perkakasku menegang lagi. Namun tak lama Ayah merobah posisinya jadi agak berdiri. Lalu turun ke lubang perkakasku.
"Pa'ceeeekk.. jangan. Tolong..." kataku meronta tapi tidak menjerit.

Terus terang tiba-tiba aku menjadi ketakutan. Aku tidak mau jadi wanita yang disanggama. Aku kan bukan wanita. Tetapi di pihak lain aku tak mampu melawan tubuh Ayah yang kekar. Tubuhku yang kerempeng begini tak sanggup melawan cengkeraman Ayah. Di sisi lain aku juga bertambah penasaran apakah nikmatnya perkakas sehingga wanita di vcd itu mengerang-erang keenakan.
Aku mulai merasakan ada suatu benda keras menusuk anusku perlahan.
"Aa pa'cek jangan lakukan ...yaahhh..."
"Sudah kamu menurut saja Fond... " Ayah meludah lalu membasahi ujung perkakasnya dan lubang anusku.
Ayah menusukkan perkakasnya ke tubuhku kembali. Aku mengejan memaksa menutup lubangku. Namun  desakan perkakas Ayah tak dapat kulawan. Benda keras itu sangat memaksa menembus masuk ke tubuhku. Tubuhku bergetar namun menjadi pasrah. Air mataku mengalir entah mengapa. Bahagia atau sedih atau kecewa aku tak mengerti. Seakan setengah nyawaku melayang dari tubuhku dan aku menjadi rileks. Bukan pingsan hanya begitu pasrah. Kurasakan ada yang mengganjal di anusku.

[Sebagian pembaca mungkin akan menanyakan mengapa aku tidak meronta dan melakukan perlawanan dengan keras. Aku sudah mencobanya dengan melarang Ayah. Namun aku yang tahu sifat Ayah dan ada sebagian peristiwa yang tak akan kuceritakan, yang membuat aku tak melawan. Tambah lagi ada rasa penasaran yang membuatku tak menyakiti Ayah. Aku tak menyesalinya. Pembaca akan tahu kalau mengikuti ceritaku]

Sementara Ayah bergerak-gerak di atas tubuhku. Kesadaranku benar-benar turun. Aku menjadi setengah sadar. Aku tak merasa apapun di sana. Sebelum tak sadar aku merasa ada gempa bumi hebat di kamarku.
"Ohh asssshhhhh..." Ayah mengkspresikan nikmatnya.
Ayah benar-benar dikuasai nafsu waktu itu. Aku menjadi sangat jijik sekaligus terpenuhi rasa dipuaskan rinduku. Aku sangat kesal dan sangat ternoda.
"Ooooaaahhhh.... " lenguh ayah dan rambut kemaluannya tepat ada di kemaluanku yang lunglai.
Aku tau perkakas Ayah memasuki anusku tapi setelah beberapa waktu aku baru sadar kalau sedalam itu ayah sudah memasukiku. Ayah menciumiku lagi. Badannya yang kekar berkilat karena keringat.
Sementara di layar televisi sudah masuk adegan berikutnya. Aku kapok dan tak tertarik lagi dengan tayangan bokep itu.
Ayah mencabut perkakasnya. Sesuatu yang kosong dan pegal aku rasakan di sana. Di bawah sana tepat di anusku. Pegal dan perih. Aku lihat ke sana ada darah mengalir di pahaku.
"Pa'ceeek sakit...."
Ayahku mengambil air hangat setelah mengenakan celananya. lalu dia membersihkan luka di anusku dengan penuh kasih sayang. Dia mengenakan kembali celana pendekku lalu menidurkan aku di kasurku. Persis seperti yang dia lakukan waktu aku masih kecil.
"Maafkan Pa'cek, Fond. Pa'cek khilaf!" ujarnya sambil mencium keningku. Tetes airmata yang panas jatuh di keningku.
Ayah berdiri mendekat ke televisi lalu mengambil keping vcdku. Ayah keluar kamar lalu  menutup pintu kamarku.
Aku merasa lelah dan sakit baik secara fisik maupun psikologis. Aku tertidur dan baru terbangun malam saat Ayah memberikan obat untuk diminum dan satu obat ambien yang disumpalkan  pada lubang anusku. Semua berlangsung tanpa kata-kata. Walau masih benci tapi aku tahu kalau Ayahku tidak berniat menyiksaku apalagi menyakitiku. Aku tahu ada sesal yang dalam di wajahnya.

Keesokan paginya aku tidak berangkat sekolah. Ayah sempat berdebat dengan ibuku yang mengatakan kalau aku baik-baik saja. Sedang Ayah bersikeras kalau aku sedikit demam. Akhirnya Ayah memenangkan perdebatan dan aku diijinkan tidak sekolah hari ini. Ah, apa kata dunia kalau aku sekolah dengan jalan seperti anak habis disunat? Akan banyak pertanyaan. Bisa sih aku beralasan kena bisul di pantat atau di selakangan. Ah, tetapi tidur di rumah seperti saran Ayah lebih enak dan nyaman.
Hari itu aku merasa jenuh alias bete bin sebete-betenya. Ayah pergi karena ada urusan. Keping VCD disita. TV membosankan acaranya. Tidur bosan. Di rumah sendiri, baru setelah  makan siang nanti Ayah kembali. Sedang Ibu mungkin sampai malam karena harus kunjungan keluar daerah.
Dengan langkah yang masih tertatih-tatih dan terkangkang-kangkang aku mencoba mencari  makanan di meja makan atau kulkas. Jalan ke belakang dan depan. Lalu terbersit ide mencari VCDku yang disita ayah kemarin. Aku tahu kunci kamar ayah dan ibu.
Tak perlu lama aku mencari-cari. Aku menemukan laci penyimpanan kondom. Aku mengambilnya satu. Aku ingin mencobanya. Aku mencari di kolong lalu mencoba membuka lemari pakaian. Namun tidak kutemukan VCD itu. Sekilas aku melihat ada bayangan pantulan plastik di atas lemari pakaian. Aku mengambil bangku dan menaikinya.
Ini dia!
Bukan cuma satu yang aku temukan. Sepuluh keping vcd termasuk milikku salah satu yang disita Ayah kemarin. Kuambil semua dan aku mau coba semua sebelum Ayahku kembali nanti. Segera saja adegan sanggama berbagai versi melintasi mataku masuk ke otakku. Koleksi ayah lengkap tidak hanya pria dan wanita berbagai bangsa namun juga wanita dengan wanita. Bagian lesbi selalu kulewati aku merasa jijik melihatnya. Sebaliknya bagian pria dengan pria selalu aku nikmati lebih lama. Bahkan aku terkadang mengulangnya.

Tak terasa jam-jam membosankan menjadi jam-jam menggairahkan. Lapar pun tak kurasa lagi yang ada aku menikmati rasa tegang di perkakasku karena adegan-adegan di atas.
Aku sudah lulus SMP namun nilaiku tidak memuaskan. Lagi-lagi ini juga jadi salah satu tema pertengkaran Ibu dan Ayahku. Untuk masuk SMA favorit juga gagal meskipun ibu sudah melobi istri kepala sekolah. Akhirnya aku hanya masuk SMEA. Sama sekali bukan yang aku inginkan. Aku hobi di bidang teknologi tetapi  masuk SMEA. Tetapi ini lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali. Agar aku mau masuk SMEA Ayahku menggadaikan motornya untuk membelikanku komputer baru dan sebuah laptop.
Kenakalanku bertambah-tambah. Sekarang memang aku tidak lagi meminjam VCD bokep karena aku bisa mengunduhnya dari internet dengan gratis. Beberapa kali aku ketahuan Ayah menonton dan Ayah sudah tidak bisa lagi melarangku. Bahkan sering Ayah yang meminjamkan VCD bokep untuk kami tonton bersama-sama.
"Yaaahhh...." kataku manja pada Ayah suatu kali acara nonton bokep bersama.
Oh ya semua kulakukan saat ibu pergi. Dan tahulah kalian kalau ibuku semakin sibuk. Apalagi beliau ikut partai politik yang mengangkat dirinya sebagai sekjen untuk wilayah propinsi. Sepak terjang ibu membuat dia semakin sering pergi bersama teman-temannya. Aku dan Ayah juga menikmati kalau ibu pergi.

Sore itu di rumah hanya berdua karena tadi siang Ibu berangkat ke Jakarta untuk konsolidasi pemenangan pemilu. Aku senang dan berdebar-debar karena malam ini aku akan tidur dengan Ayah menggantikan posisi Ibu jadi istri. Ayahku pun tampak sangat ganteng sore itu. Ayah bukan seorang yang suka jajan kalau ibu pergi. Tapi entah kalau di luar mungkin dia punya simpanan brondong.
Waktu adzan maghrib baru saja lewat. Rumah terasa sepi tanpa Ibu.
"Fond, Pak cek ngantuk. Nanti kalau mau tidur jangan lupa matikan lampu dan periksa pintu" ujar Ayahku sambil berlalu ke kamar.
Aku menonton TV sebentar namun semua acara membuat aku bete saja. Tiba-tiba terbersit  pikiran nakalku lebih baik memanfaatkan waktu untuk nonton bokep sambil bermain perkakas Ayah saja daripada ga ada kerjaan.
Setelah selesai memeriksa semua pintu dan mematikan lampu, aku masuk kamar orang tuaku yang sudah remang-remang lampunya. Ayah tampaknya sudah nyenyak terbawa ke alam mimpi.Tak lupa kubawa VCD bokep yang tadi siang dipinjamkan Ayahku. Aku suka VCD pilihan Ayah, bintangnya bagus-bagus juga variasinya. Segera saja kunyalakan DVD di kamar dan kumasukkan keping cakram tanpa kuperiksa lagi judulnya.
Terdengar musik yang keras.. ah lalu kukecilkan dengan segera. Ayahku terbangun kaget.
"Aaahh ck..." terdengar Ayahku kesal.
"Nonton Pakcek... " aku menawarinya tetapi tampaknya dia begitu mengantuk.
Segera saja suara ah, ouh, yess, dan erangan-erangan kenikmatan lain menghiasi frame demi frame film. Bintang filmnya lelaki semua, tumben. Biasa Ayah selalu meminjam yang campuran, maksimalnya film bisex. Meskipun begitu perkakasku tetap tegang juga.
Lama kelamaan aku tidak tahan sendiri. Sedang di sampingku ada Pakcek aku yang suka perkakas juga. Kurendahkan badanku dan kutempelkan pipiku di dada Ayah. Sambil menonton tanganku meraba-raba perut Ayah yang sixpack. Ada bulu-bulu sexy di bawah pusar yang menunjukkan jalan untuk terus ke bawah. Tapi ada sarung di sana... Ah rupanya perkakas Ayahku juga sedang tegang.
"Kenapa Fond... ingin ya..." kata Ayahku tenang tanpa mengenyahkan tanganku yang meremas-remas perkakas besarnya.
"Kalau iya Pak cek?" kataku.
Perkakas Ayah tiriku yang ganteng semakin mengeras. Terasa hangat dan berdenyut-denyut. Sangat berasa karena Ayah tidak mengenakan celana dalam di bawah sarung.
Aku mendekatkan bibirku ke bibir Pakcek dan segera kami berciuman. Sebuah ciuman dalam dan sungguh nikmat ciuman Pak cek ini. Aku yakin ciuman dengan wanita tak akan mengalahkan dahsyatnya ciuman Pak cek. Kutindih Ayahku sambil aku tetap menikmati bibirnya. Lidahku bermain liar di dalam mulut Ayah. Lidah Ayah juga tak kalah garang mengeksplorasi semua sudut mulutku. Nafas kami memburu. Saat kami berpandangan kulihat nafsu membara yang mengatakan 'kamu kekasihku malam ini Fond'.
Tangan Ayah menggerayangi punggungku hingga pantatku. 'Ayah aku juga menginginkanmu malam ini' pikirku. Sangat hangat dan nyaman bergulat bersama Ayahku. Cukup berciuman aku tidur di pelukan lengan Pak cek yang kekar.
"Fond, kamu tahu tidak, aku sayang kau..." ujarnya dengan sungguh-sungguh.
"Sayang apa neh Pak cek?" tanyaku menggoda sambil sesekali mengelus dada, perut, dan juga perkakas Pak Cek.
"Kamu ini ya anak Pak cek dan juga kekasih Pak cek. Pokoknya sayang lah" ujarnya
Lalu kami ciuman lagi, ciuman yang tak mungkin dilakukan oleh Ayah dan anak yang normal bahkan Ayah tiri sekalipun. Kupelorotkan sarung Ayah dan kubelai-belai perkakasnya yang sudah menegang. Besar 20 cm diameter 4,5 cm. Ini bukan ukuran rekayasa karena ini cerita sungguhan. Ayahku juga bukan bule . Perkakas Ayah bentuknya bagus kepalanya besar. Ah pantas saja anusku berdarah-darah dahulu.
Kulepas ciuman bibirnya aku turun menciumi perkakas Ayahku.
"Sssshhh ooowwhh isap Fond..." Ayahku mengerang tak tahan.
Kumainkan lidahku di lubang kencingnya. Gerakan ini membuat Ayahku menggelinjang. Lalu berputar-putar di kepala perkakasnya yang sensitif. Lidahku yang kuat dan basah menjelajah jalan panjang batang perkakas Ayah hingga pangkalnya. Perkakas Ayah berurat-urat sexy seperti badan binaragawan saja. Ayah sering menggunakannya mungkin.
"Oooooowwhhhhh...."
Kupermainkan dua bola kembar sambil kupegangi tongkat sakti Ayah. Jembut Ayah lebat kini basah dengan liurku. Kulit bolanya juga berkilatan ditimpa cahaya layar televisi yang berganti-ganti menayangkan adegan lucah.
"Fonndd ahhh kamu pandai sekali ooohhh"
Ayah mengerang keenakan saat lidahku mulai naik lagi ke batang atasnya. Hmmm kugigit bekas sunatan Ayah dengan lembut. Kulingkarkan lidahku di daerah sensitif penis yaitu di perbatasan batang dan kepala perkakas. Ini membuat Ayahku menahan kepalaku.
"Aaahhhh isap Fond aaahhh Pakcek tak tahan ooouuuhhhh...." Nafas Ayahku benar-benar tidak teratur. Tersengal-sengal karena birahi.
Ayah benar-benar dikuasai nafsu birahi sekarang. Tak peduli kalau aku anak tirinya. Kumainkan lagi lidahku di lubang kencingnya. Lendir bening meluber asin rasanya di lidahku. Ayahku meracau karena nikmat tiada ampun. Kuhisap saja. Aku berciuman dengan lubang kencing Ayah yang biasa mengobok-obok vagina ibuku. Kucucup lubangnya. Ayahku bergelinjang.
"Setan! Isap Fond. Masukkan perkakasku ke mulutmu!" Ayahku mengamuk karena tak tahan kupermainkan lagi. Kali ini dia benar-benar marah.
Aku senang bisa membuat Ayah belingsatan seperti ini. Aku tersenyum. Namun tak mau membuat dia menderita birahi, kumasukkan batang perkakas yang besar itu melalui bibirku yang rapat tapi lembut.
"Oooouuuuhhhhhhhh..... shhhhh... Aaawwww.."
Batangnya yang keras terasa berdenyut-denyut di antara bibirku. Hangat sekali. Kumasuk dan keluarkan dari mulutku. Enak sekali rasanya. Clop clop clop suaranya... Meski kucoba memasukkan sedalam mungkin, namun bibirku tidak mampu menyentuh pangkal. Terlalu panjang buat  tenggorokanku.
"Aaahhh enak sekaali Fonnnd..." erangnya menikmati servisku.
Kulakukan cukup lama sampai bibirku mulai terasa baal. Kulepaskan perkakas Ayah yang merah berkilat basah lalu aku pindah untuk menindih dan menikmati bibir Ayahku. Kuhisap dan kusesap bibir bawah Ayah.
"Pak cek, gantian isap punyaku.." pintaku.
Ayah menidurkanku lalu menciumiku dengan lembut dahi dan pipiku. Lalu dada dan turun ke perutku. Geli rasanya tapi enak. Kutahan kepala Ayahku saat menjilati pusarku. Aku terkikik kegelian. Lalu dia tiba di perkakasku dan langsung menghisapnya.
"Ooooaaahhhh ..."
Enak sekali. Bibir basah Ayah hangat menyelimuti batang perkakasku yang panjangnya 17cm. Kalian harus merasakan yang ini ... ini baru namanya sex. Oooohhhhh sampai ubun-ubun rasanya air maniku mau nyemprot. Apalagi saat Ayah mengisap sambil menarik mulutnya ke ujung kepala perkakasku.
"Aaaaahhhhhh ..." aku menjerit tak tertahankan.
Perkakasku benar-benar tegang. Kepala perkakasku berdenyut-denyut menambah sensitifitas rasa karena gesekan. Rasanya tambah besar saja perkakasku keluar masuk di antara bibir Ayah.
Benar-benar kenikmatan dunia yang tiada tara. Ayah melakukannya berulang-ulang. Begini mungkin rasanya kalau bersetubuh dengan si sexy jupe hahaha.... Ayah memujiku pintar tapi dia lebih pintar. Duniaku serasa melayang. Nyawaku terasa ikut terhisap saja.
"Paaakcek akuuu aaaahhhhh.... " tak tertahankan lagi tiba-tiba saja aku muncrat.
Crot crot crot...! Tak terkendali cairan lelaki muda ini muntah dalam mulut Ayah berkali-kali. Banyak sekali. Sudah tiga hari tidak kukeluarkan.
Pakcek tidak melepas perkakasku dari mulutnya. Padahal dia tahu aku sudah memuntahkan maniku dalam mulutnya. Aku yakin itu banyak sekali. Ayah tetap mengisap senjata saktiku. Seakan tak  ingin ada mani yang tersisa dari batang perkakasku. Bahkan dia membersihkan ujung perkakasku dengan lidahnya.
Walaupun sudah keluar tapi perkakasku tetap saja perkasa. Darah di batang tidak mau beralih. Ayah menciumku. Rasa asin berpindah ke mulutku. Dan menguarlah bau mani. Ya maniku sendiri.
Ayah mengambil kondom di laci samping tempat tidur. Lalu membuka dan siap memakainya di perkakas besarnya. Aku tahu Ayah akan menusuk anusku. Tapi aku sekarang inginkan sebaliknya. Kurebut karet kondom dari tangan Ayah. Lalu kupakaikan di perkakasku sendiri.
"Terbalik itu, Fond" kata Ayahku yang melihat aku kesulitan memakainya.
Kubalik dan kubuka gulungan kondom hingga terbuka semua di pangkal perkakasku. Bentuknya jadi agak aneh tapi seksi. Bau kondom tercium harum. Ini memang pertama kali aku memakai kondom. Entah apa maksudnya aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin memakainya sebelum menusukkan perkakasku ke lubang pembuangan.
"Pak cek tiduran saja.." kataku mendorong dadanya.
Ayah mengangkat pahanya.
"Tetapi hati-hati dan pelan io..." pesan Ayah.
Kini aku ingin memperkosa pantat Ayah. Membalas apa yang dia lakukan beberapa bulan yang lalu. Kuarahkan batang perkakasku yang tetap tegang ke arah lubang kecil yang merah dan berkerut itu. Tampak kecil sekali dibandingkan batang perkakasku yang menginginkan pelampiasan. Ibarat tongkat satpam yang akan ditusukkan lubang di gasper saja. Tampak tidak mungkin
Saat kutempelkan kepala perkakasku disana, lubang itu belum juga terbuka. Ayah menggenggam perkakasku dan mengarahkan tepat di pusat kerutan lalu memaksa menusukkan ke sana. Aku menuruti dan mendorongkan pantatku ke sana.
"Aaaaakkkkkkkhhhhh.... fond pelan... sakiiitt" Ayahku yang perkasa itu meringis menahan sakit.
Baru tahu dia rasanya. Aku paksa saja perkakasku masuk sambil menikmati wajah Ayah yang  meringis menahan perkakasku. Sementara itu perkakas Ayah mengkerut dan lemas dengan segera. Mungkin saja ini efek dari menahan sakit tadi. Aku yakin itu.
Keringat menetes dari dahi Ayah. Badannya memerah dan berkilat. Nafasnya mendengus menahan sakit yang memusat di lubang anusnya. Kutarik perkakasku lalu kumasukkan lagi. Kutarik lagi lalu kumasukkan lagi.
"Oooowwwhhh aaahhhhh ahhhh" jerit Ayahku
Kalian ingin tahu rasanya? Dua kali lebih nikmat dari dihisap Ayah tadi. Lubang anus Ayah begitu licin dan sempit. Memang hari ini aku beruntung menikmati dua kenikmatan sex yang tiada tara anus dan oral. Hmm mungkin kalau perkakas besarku masuk vagina jupe akan 3 kali  lebih nikmat dari ini, aku cuma bisa membayangkan.
"Ganti posisi fond..." pakcek memerintahku lalu dia membungkuk.
Ah inilah posisi yang dinamakan doggy style. Lututnya menekuk badan depannya membungkuk ditahan siku lengannya. Kutekuk lututku lalau kuarahkan perkakasku di lubang merah yang kembali mengkerut kecil. Ajaib! sekarang lebih mudah. Sekali bless perkakasku mendapat kenikmatan lubang anus Ayah.
Segera saja aku melakukan gerakan maju mundur. Otot pinggangku yang semakin liat dan menampakkan otot-otot pria dewasa. Meski belum sejelas Ayah tapi sixpacku juga sudah memperlihatkan semua modal seorang pria. Saat perkakas maju ada nikmat. Saat perkakas mundur juga nikmat. Jadi yang ada hanya nikmat dari nikmat. Semakin cepat aku masuk dan keluar, semakin nikmat.
Satu yang tak kuperhatikan adalah perkakas Ayah menegang dan berayun-ayun memukul-mukul perutnya sendiri. Ayah benar-benar tegang disodomi begini. Bahkan tanpa tangan Ayah menyentuh perkakasnya.
"Ahhh ahhh ahh..." Ayah rupanya sudah mendapat kenikmatan disodomi begini.
Setengah jam berlalu.
"Foonnnd Ayah hampir niiihhhh...." erang Ayah
"Terus Fonnnndd lebih cepat lagiiiihhhh...."
Kupercepat gerakanku. Tubuh kami berdua sudah basah oleh keringat. Dari rambut kepalaku pun menetes keringat. Seperti sehabis main bola saja. Kami memang main bola, namanya bola sodok. Bola kami menyodok tongkat yaitu perkakas kami.
Aku hampir saja orgasme saat Ayah melepaskan diri dari perkakasku. Ayah lalu tiduran dan mulai mengocok perkakasnya. Crot crot crot...! Sungguh jauh muncratnya. Bahkan menempel di dinding belakang kasur. Muka Ayah juga terkena maninya, namun paling banyak ada di dada dan perutnya.
Kubuka kondomku, kukocok perkakasku di atas dada Ayahku. Tak lama maniku dan mani Ayah bercampur jadi satu di dada dan perut Ayah.
"Ooooohhhhhhhh..." erangku menikmati orgasme kedua.
Ayah mengambil sarungnya dan membersihkan mani kami. Lalu Ayah menciumiku pipi dan dahiku.
"Ayah suka ini. Ayah sayang kamu Fond..."
Lalu Ayahku pergi ke kamar mandi. Tanpa terasa aku terlelap tidur. Aku sadar ketika Ayah membangunkanku. Ayah masih telanjang tanpa risih di hadapanku.
"Fond, lagi yuk... minum ini dulu... Ayah buatkan jamu biar kamu kuat" ujar Ayah menyodorkan cangkir putih.
Aku dicium Ayah lagi sebelum sempat meminumnya. Ah Ayahku kekasihku memang. Jam sudah menunjukkan jam 00.30 pagi. Tak mau sia-siakan waktu rupanya.

Epilog:
Aku sekarang sudah bekerja. Masih tinggal dengan Ayah dan ibuku. Aku terkadang masih melakukan dengan Ayahku terutama kalau ibuku tidak ada. Dan sampai sekarang Ibuku masih tidak tahu. Hubungan kami masih seperti biasa saja. Terkadang Ayah menegerku namun dia tidak jarang juga memanjakanku sebagai anak lelaki satu-satunya dalam keluarga. Aku kini bekerja sebagai Staf Sekuriti di sebuah Bank swasta. Oh ya aku juga pernah melakukan dengan rekan kerjaku. Kapan-kapan akan aku ceritakan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar