Jumat, 17 Juli 2015

Kenikmatan di Hanggar



Aku bekerja di perusahaan asing sudah hampir tiga tahun. Aku beruntung karena begitu tamat S 1 aku langsung dapat kerja. Sementara ribuan orang masih menganggur. Umurku sekarang 22 tahun dan aku adalah seorang homoseks murni 100% yang tidak tertarik sedikit pun pada cewek. Ayahku seorang tentara yang sekarang sudah purna bakti. Lingkungan kerja ayahku cukup berpengaruh kepadaku. Itulah sebabnya aku sebetulnya ingin jadi tentara. Tapi oleh suatu sebab yang tidak terlalu jelas orang-tuaku melarang. Mungkin orang-tuaku sudah “mencium” bahwa motivasi-ku menjadi tentara hanya untuk memuaskan hasrat homoseksual-ku.

Aku senang dikelilingi cowok kekar, jantan, macho, apalagi kalau ganteng.Dengan menjadi tentara maka aku merasa hidup di surga, dikelilingi bidadara yang cakep-cakep dan kekar.

Apalagi waktu pendidikan harus tinggal di asrama militer, kamar mandinya bareng (common bathroom). Sehingga aku bisa telanjang bulat bersama cowok-cowok yang ganteng-kekar dan menikmati pemandangan kontol dan jembut mereka. Bahkan kalau beruntung bisa memergoki salah seorang dari mereka sedang ngeloco di bangsal mandi itu! Asyik sekali!

Sewaktu ayahku masih aktif di tentara, aku banyak bergaul dengan anak buah beliau, baik yang berpangkat tinggi maupun yang rendah. Favoritku adalah ajudan-ajudan beliau yang setiap 2 atau 3 tahun berganti. Mereka adalah perwira muda pilihan yang ganteng, atletis dan cerdas. Di rumah kami disediakan kamar untuk ajudan. Karena para ajudan biasanya masih lajang maka mereka tinggal di rumah kami. Walaupun aku tidak pandai bergaul, tetapi aku selalu berusaha dekat dengan ajudan ayah. Maksudnya hanya satu, yaitu untuk bisa menikmati kegantengan dan kelaki-lakian mereka sepuasku.

Dengan bergaul erat dengan mereka, di rumah aku bisa masuk ke kamar mereka. Pura-pura mau ngobrol, padahal aku senang melihat mereka bertelanjang dada di kamar.Di kamar biasanya mereka bertelanjang dada saja.Jika beruntung aku malah bisa melihat mereka hanya mengenakan kancut minim saja, nyaris telanjang bulat. Pengawal ayah juga banyak yang ganteng dan bertubuh kekar. Aku juga senang menikmati mereka, tetapi karena kesibukan mereka, aku tidak bisa banyak menganggu.

Walaupun ajudan ayah adalah perwira yang berdisiplin dan correct tapi karena mereka masih muda dan belum banyak pengalaman dalam hidup, sempat juga aku berhasil menikmati dua orang di antaranya (Bang Jeffry dan Bang Rizki). Bukan salah mereka, akulah yang mulai. Bahkan ketika sadar, Bang Jeffry marah sekali dan hampir saja membunuhku. Tapi aku segera minta maaf dan Bang Jeffry sendiri lalu sadar bahwa dia sendiri juga salah. Kenapa bisa terpikat berhubungan dengan sesama lelaki? Itulah sebabnya sampai sekarang aku sering mengincar cowok berseragam militer, tanpa memilih pangkat. Perwira, bintara atau tamtama juga boleh,bahkan satpam! Karena, yang aku ingin nikmati bukan pangkatnya, melainkan tubuhnya yang kekar, ketat berotot dan tentunya juga kontol, jembut, pejuh, puting susu, ketiak, mulut dan lobang pantat mereka!

Di kantorku juga banyak pria gay, tapi semuanya orang bule. Aku tidak berselera dengan pria bule, walaupun di antara mereka banyak yang ganteng dan bertubuh sangat atletis dengan kontol yang ukurannya aduhai. Pria bule jarang mandi dan jarang ganti baju. Mereka hanya mandi kalau gerah dan jarang gosok gigi. Karena itu mereka biasanya bau ketek dan bau jigong! Padahal aku paling tidak suka cowok bau!Sesudah berak atau kencing, mereka tidak cebok. Lobang pantat dan lobang kencing mereka hanya dikeringkan dan dibersihkan dengan kertas toilet. Padahal setiap hubungan sejenis pasti akan saling isap kontol (blowjob) dan saling jilat pantat (rimming). Bisa dibayangkan apa yang diisap dan dijilat jika partner seks tidak pernah cebok. Pasti akan menjilat kencing dan tai!. Jijik sekali, bukan?!

Nah, waktu cerita ini terjadi aku sudah lama tidak “main” dengan tentara.Kangen juga pada pelukan laki-laki kekar. Kebetulan aku dapat tugas ke luar Jawa untuk urusan bisnis. Aku cukup sering harus ke luar Jawa dan biasanya aku pilih terbang dengan Garuda, karena pramugaranya selalu ada yang ganteng dan menawan. Aku sering gemas jika lihat pramugara ganteng. Ingin rasanya melumat bibirnya, menjilat puting susunya dan menghisap kontolnya. Waktu di Singapura aku sempat mencicipi pramugara Garuda. Aku pesan lewat agen gigolo (namanya Putrajaya).Karena aku tidak mau disuguhi pramugara palsu, aku periksa identitasnya bahkan dia harus bawa koper pramugaranya dan lengkap dengan seragamnya. Aku kasihan juga dengan cowok yang cakep dan masih muda, kok mau jadi cowok pesanan. Karena itu aku mula-mula hanya berniat main luar saja. Tapi si pramugara bilang dia bukan cari duit, tapi mau cari kenikmatan. Jadi akhirnya terpaksa aku “tugas” seperti biasa: mandi kucing (menjilati tubuhnya dengan lidah dan ludahku), menjilati kedua puting susu dan ketiaknya, mengisap kontol dan menjilati lobang pantatnya, serta menyodomi dan disodomi. Memang pramugara itu ganteng sekali, tubuhnya atletis, kontolnya besar, pejuhnya banyak dan kental dan jembut serta rambut ketiaknya hitam dan lebat. Pokoknya paket komplit istimewa, seperti nasi goreng komplit pakai telor dan daging kambing!

Ini kisah nyata, senyata-nyatanya! Waktu cerita ini terjadi aku landing di suatu bandara (bandar udara) di luar Jawa.

Beberapa bandara merangkap sebagai pangkalan udara militer, ada yang milik angkatan udara, ada juga yang milik angkatan laut atau angkatan darat. Kebetulan waktu aku tiba belum ada yang menjemput. Waktu aku telepon dengan HP, pegawai kantor cabang minta maaf, karena mereka terlambat akibat ada demo di jalan menuju bandara. Mereka memperkirakan baru akan tiba di bandara sekitar satu jam kemudian. Aku tidak punya pilihan selain menunggu saja di terminal kedatangan dan duduk di bangku yang tersedia.

Tiba-tiba aku melihat seorang tentara melintas di depanku. Aku terpana, dia bertubuh tinggi, ramping, dadanya bidang dan kekar. Darah homoku berdesir. Dia mengenakan seragamnya biru muda dan biru tua. Di dadanya ada tulisan yang aku tidak pasti apakah “Sagatra” atau “Satgatra”.Pangkatnya Prada (Prajurit Dua). Mata homoku yang jalang kontan saja jadi “ijo” dan mengikuti arah kemana dia pergi. Dia segera menghilang di kerumunan orang. Mungkin dia pergi ke tempat tugasnya, atau mengurus bos atau famili yang akan berangkat naik pesawat?

Sekitar sepuluh menit dia kembali lagi dan ..ah!, dia duduk di bangku di sampingku. Otak homoku segera berpikir mencari akal untuk berkenalan dengan (anggota) Satgatra itu.”Maaf Mas, kalau dari bandara ke kota kira-kira berapa menit?”, aku pura-pura bertanya. Padahal aku sudah puluhan kali ke situ dan hafal berapa lama perjalanan dan berapa jarak dari bandara ke kota.

Aku coba-coba untuk berkenalan dan aku tahu belum tentu berhasil.Sebab, biasanya anggota tentara atau polisi sangat arogan dan memandang rendah pada”orang sipil”(begitu mereka menyebut orang yang bukan tentara atau polisi). Keadaan ini terjadi akibat Pemerintah Soeharto yang otoriter dan sangat militeristik. Pada zaman Soeharto, anggota ABRI ditempatkan sebagai warganegara kelas satu dan yang lain warganegara kelas dua.Tidak heran jika pandangan mereka pada orang yang bukan anggota ABRI, sangat merendahkan, persis seperti pandangan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam di Afrika Selatan pada zaman apartheid dulu! Hal ini sering aku katakan pada ayahku. Tapi beliau selalu membela diri dan tidak sependapat denganku!

Tapi Satgatra itu cukup tanggap dan ramah. Dia menjawab pertanyaanku dengan simpatik. Aku melanjutkan move untuk

bisa berkenalan dengan mengajak dia ngobrol topik lain yang relevan. Dia cukup betah diajak ngobrol. Tidak terasa kami sudah 30 menit bicara.Sementara itu aku sudah sempat tahu namanya, statusnya yang lajang dan pendidikannya yang SMU. Sementara itu aku terus menrus mencuri pandang wajahnya yang ganteng, lengannya yang kekar dan dadanya yang bidang. Nikmat sekali dan darahku berdesir-desir oleh rangsangan aura dan enersi kelaki-lakiannya.

Walaupun aku tahu namanya, tapi untuk menghormatinya, dalam kisah ini aku akan menyebut dia sebagai “Satgatra” saja. Tiba-tiba HP-ku bergetar dan rupanya yang menjemput aku memberitahu bahwa mereka masih terjebak demo. Aku katakan agar jika mereka sampai di terminal dan aku tidak kelihatan agar menghubungi layanan informasi. Aku akan meninggalkan pesan di sana. Aku mulai berpikir untuk mencari alternatif lain mencapai kota. Waktu Satgatra itu tahu masalahku, dia menawarkan aku menunggu di mess-nya. Asal saja aku tidak keberatan dengan mess tamtama yang sangat sederhana, katanya. Aku setuju.Aku meninggalkan pesan pada secarik kertas di layanan informasi. Ternyata Satgatra itu membawa mobil dinas dan kami naik mobil itu ke mess yang jaraknya beberapa ratus meter dari terminal.

Satgatra itu ramah dan hormat kepadaku. Apalagi waktu aku cerita siapa ayahku. Mess-nya sepi dan kosong, agaknya dia tinggal sendirian di situ.Kami duduk-duduk dan dia sedang menawarkan minum ketika telepon di mess itu berdering. Dia mendapat perintah untuk memeriksa hangar dan dia menawarkan apakah aku ingin menunggu di mess atau ikut dia. Tentu aku putuskan ikut dia, sebab aku saat itu sedang berkhayal pacaran dengan Satgatra si cowok ganteng itu! Dia mengambil minuman dan menyilahkan aku minum lalu kami berangkat ke hangar. Hangar itu letaknya agak jauh dari terminal dan harus memutar untuk mencapainya karena menghindari jalur pesawat terbang. Aku bangga bahwa Satgatra itu mempercayai aku walaupun baru berkenalan. Tidak berapa lama kami sampai di hangar yang juga tampak sepi. Ada satu pesawat militer di hangar tapi tidak ada seorangpun di situ. Satgatra itu masuk ke suatu ruangan di hangar dan kembali lagi. Aku pura-pura memperhatikan pesawat militer itu dari jauh.Padahal pikiranku melayang ke cowok ganteng yang berdada bidang itu.

Tiba-tiba aku merasa harus melakukan sesuatu. Ketika dia mengajak kembali ke mobil kami berjalan beriringan dan aku memaanggil dia “Mas..”., dia berhenti dan aku merangkulkan tanganku ke dada bidangnya.Aku mengambil move yang sangqt nekat! Tapi kembali aku beruntung, ternyata dia tanggap, tidak menolak, tidak menepis. Dibiarkannya aku membenamkan wajahku ketengah dadanya yang bidang. Aku merasakan punggungnya keras, juga dadanya. Tidak tercium bau keringat, tetapi tercium bau plastik, mungkin dari salah satu peralatan militer di bajunya.Dia menarikku duduk di lantai semen hangar itu. Aku sudah lupa diri, aku dorong dia supaya terlentang dan dia tidak melawan. Perlahan-lahan dia merebahkan badannya terlentang di lantai hangar dan baretnya terlepas dari kepalanya. Aku “memanjat” dan melumat bibirnya, kami bersedotan dan bertukaran lidah dan ludah. Nikmat sekali!. Lalu aku mulai sibuk mencari puting susunya dengan melepas kancing bajunya dan menyingkap baju kaosnya. Akhirnya aku menemukan puting susunya yang ketat dan nikmat serta sangat kelaki-lakian. Aku sedot-sedot sepuas-puasku. Dia menggelinjang kenikmatan. Dadanya yang sangat menonjol ke depan juga aku jilati, sehingga aku dapat merasakan asin keringat yang mulai mengembun di dadanya yang bidang dan kekar itu. Kemudian koppelriem, ikat pinggang dan risleting celananya aku buka untuk bisa menemui kontolnya yang aku yakin pasti besar dan panjang. Penasaran akau menacri kontolnya yang tersimpan rapi di dalam kancutnya yang rendah dan ketat.

Ketika kancutnya berhasil kupelorotkan tampaklah kontolnya yang besar, hitam, disunat, mengkilat dan ketat. Tanpa menunggu lebih lama kontol itu kuisap, sementara jariku mulai mengobok lobang pantatnya. Dia menggelinjang ketika jariku menyodok lobang pantatnya untuk memijit kelenjar prostatnya. Tanganku yang satu meraba dan merangsang puting susunya yang keras dan melenting itu. Aku tidak terlalu lama “bekerja”, karena tak lama kemudian ia segera mencabut kontol dari mulutku dan kemudian berlutut lalu membiarkan pejuhnya muncrat berceceran di lantai hangar. Dengan takjub akau memandangi pancaran pejuhnya yang cukup jauh dari lobang kencingnya yang sedang menganga seperti mulut ikan.

Setelah selesai dia memijat-mijat batang kontolnya untuk mengeluarkan seluruh pejuhnya dari saluran kencingnya. Lalu dia bangkit dan membereskan pakaiannya. Dia tidak bilang apa-apa dan berjalan ke luar hangar ke arah mobil. Aku mengikutinya dari belakang. Aku kira dia marah!. Ternyata sesampainya di mobil dia mengajakku berciuman, aku layani dengan sebaik-baiknya. Ah, nikmat sekali!

Ketika sebuah pesawat kecil mendarat, kami meninggalkan hangar dan kembali ke terminal. Diterminal kulihat Bambang, staf dari kantor cabang, sudah menunggu. Aku mengucapkan terima kasih dan bersalaman mesra dengan cowokku itu, kami turun dari mobil, dia memberi hormat secara militer dan berlalu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar