Jumat, 17 Juli 2015

Mas Faiz



Malam itu hujan turun di Bandung. Aku masih sibuk membuat laporan kegiatan Pekan Muharram kemarin. Karena komputerku rusak jadi aku mau tak mau harus bermalam di sekretariat rohis. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh saat pintu sekre dibuka oleh seseorang. Sesosok tubuh agak basah di pundak nampak di ambang pintu.
"Eh, ki. Lembur?" Tanya ikhwan tinggi besar itu.
"Ya nih Mas Faiz. Bikin laporan acara kemarin." Mas Faiz, ketua bidang humas di rohis kampusku itu masih sibuk membereskan rambutnya yang basah berantakan.
Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi itu beda dua tahun denganku. Ia baru saja diangkat jadi Ketua bidang.
"Oh, ngomong-ngomong afwan ana numpang neduh ya akh. Baru pulang dari warnet eh malah kehujanan waktu mau ke kostan," jawabnya sambil membuka kemeja kotak-kotaknya sehingga ia hanya mengenakan kaos oblong putih yang agak kecil dan pas dengan badannya.Kemudian ia melangkah menuju lemari penyimpanan alat-alat sholat inventaris sekre.
"Ya gak apa-apa. enak malah ada yang nemenin," jawabku sambil tetap memperhatikan lelaki berjanggut tipis itu dari sudut mataku. Ia mengambil sarung dari lemari kemudian pergi ke luar, kurasa ke toilet. Tak lama kemudian ia kembali lagi sudah memakai sarung dan menjinjing celananya yang basah. Lantas ia mengambil sajadah dan sholat Isya.
Kiblat tepat searah denganku menghadap. Sehingga dari belakang aku bisa melihat jelas postur Kakak tingkatku itu. Tubuhnya well-built karena aktif berlatih karate. Kebetulan sarung yang dikenakan Mas Faiz berwarna putih. Jadi ketika ia sedang rukuk atau sujud dapat kupastikan dibalik sarungnya itu ia hanya mengenakan celana dalam saja. Kulihat jelas dari garis yang dibentuk oleh tepian celana dalamnya. Yang juga menunjukkan begitu besar pantatnya itu.
Ah, jujur sejak aku pertama melihatnya aku langsung 'suka' padanya. Walaupun aku tahu ini aneh. Kukira rasa suka itu hanya sebatas rasa kagum saja karena melihatnya begitu hebat mengisi sebuah acara di fakultas. Wibawa dan pembawaannya yang tegas namun tetap sopan. Tapi lama-kelamaan rasa sukaku itu berubah menjadi lebih dari itu. Semuanya berawal dari mimpiku waktu lalu. Aku bermimpi bersetubuh dengannya hingga ketika aku bangun kudapatkan celanaku basah oleh air mani. Mimpi itu selalu membayangiku dan semakin jelas saat Mas Faiz benar-benar ada di depanku.
"Masih lama Ki?" Suara bariton Mas Faiz menyadarkanku.
"Masih kayaknya mau sekalian nginep di sini. Lagipula besok enggak ada kuliah pagi," jawabku sambil menatap wajah teduh Mas Faiz. Alis tebalnya semakin membuat tatapan mata itu begitu tajam namun lembut. Rahangnya yang tegas dihiasi jenggotnya yang tipis. Bibirnya tipis dan merah muda, kurasa karena terjaga dari rokok dan minuman keras.
"Oh bagus, sekalian ana juga mau numpang nginep di sini. Kayaknya hujan masih lama redanya," ujarnya sambil menepuk pundakku.
"Denger-denger Mas Faiz mau nikah ya?" Kulihat sekilas wajah Mas Faiz kaget. "Beritanya udah nyebar lho Mas. Mas Faiz kemarin habis dari Cirebon karena baru khitbah-an kan ya?"
"Wah udah nyebar ya?" Mas Faiz tersenyum yang otomatis memamerkan lesung pipitnya. "Ya nih insha Allah, minta do'anya aja semoga dilancarkan."
"Amiin. Wah ngomong-ngomong banyak yang bakal patah hati nih," ujarku sambil terus mengetik.
"Ah bisa aja," ada semu merah muncul di pipinya. "Ana tidur duluan ya. Capek, tadi di jalan enggak sempet tidur." Mas Faiz melangkah kembali ke tempatnya sholat tadi lalu berbaring di atas sajadah yang ia pakai saat sholat. Tanpa sajadah pun tempat itu sudah hangat karena sudah dilapisi karpet tebal. 
Aku melanjutkan mengetik laporan hingga jari-jariku terhenti karena mendengar sesuatu.
"Ah...," tiba-tiba Mas Faiz mendesah pelan. Matanya masih terpejam. Kurasa ia mengigau."Dik Sri, ayo Dik..." Ah ia sedang mengigau tentang calon istrinya. Mbak Sri Puspita, pasti ketua bidang keputrian itu yang barusan dipanggil Dik Sri oleh Mas Faiz. Kabarnya memang kakak tingkatku itu yang dilamar Mas Faiz.
Kini perhatianku tertuju kepada sesuatu yang lain. Sarung Mas Faiz tersingkap saat ia menggaruk pahanya dan kulihat rambut halus tumbuh lebat di betisnya yang putih. Jantungku berdegup kencang saat sarungnya kembali tersingkap lebih atas dan memperlihatkan pahanya yang tak kalah putih dan tak kalah rimbun dengan rambut-rambut halus.
Perlahan aku melangkah mencari sudut yang tepat sehingga aku bisa melihat celana dalamnya. Selama beberapa menit posisi kaki Mas Faiz yang terbuka memberikanku kesempatan melihat daerah yang sulit biasanya kulihat. Tentu saja, ia sangat menjaga auratnya. Bahkan melihatnya telanjang dada atau pakai celana pendek saja tidak mungkin.
Mas Faiz meluruskan kakinya kembali. Ada sedikit rasa kecewa namun rasa kecewa itu sirna ketika kumelihat tonjolan di daerah kemaluannya. Rupanya ia sedang bermimpi indah bersama Dik Sri-nya. Ah kukira ia tidak akan berpikir macam-macam seperti itu tapi ternyata....
"Ah..," Mas Faiz kembali mendesah dan tonjolan perkakasnya semakin membesar.
Aku semakin mendekati Mas Faiz. Kaosnya tersingkap dan kulihat bulu-bulu halus menghitam dari pusarnya menuju perutnya yang putih dan six pack.
Khawatir tak mendapat kesempatan ke dua, kuraih handphone ku lalu ku ambil gambar Mas Faiz dengan pose luar biasanya itu. 
Meski gemetaran kuberanikan diri menggerakan tanganku mencoba meraba paha Mas Faiz. Kurasakan pahanya yang keras dan hangat. Pahanya begitu massive karena terlatih. Kuusap-usap perlahan dan tonjolan perkakasnya semakin besar. Kusingkap sarungnya sehingga dapat kulihat semakin jelas tonjolan perkakasnya itu terbelenggu oleh celana dalam putihnya, mendesak untuk keluar. Tak lupa, kembali kuambil gambarnya.
Rambut-rambut halus memenuhi pahanya yang putih dan semakin menghitam di tepian celana dalamnya. Kuraba perkakasnya dan ... ah begitu besar, keras, dan hangat... Ah Mas Faiz, maafkan aku. Bukannya aku lancang tapi aku tak bisa menahan diri.
"Ah..," Mas Faiz mendesah begitu kuusap perkakasnya yang semakin menegang dan tentu semakin keras dan hangat kurasakan. Tak lama setelah itu kurasakan ada cairan lengket dan basah yang menempel di ujung jariku, precum. Kurasa mimpinya begitu dahsyat. Kakak tingkatku ini sepertinya sudah tidak sabar untuk menikahi Teh Sri dan merasakan nikmatnya malam pertama. Namun begitu tahu ukuran dan bentuk perkakas Mas Faiz seperti itu aku jadi kasihan sama Mbak Sri. Gadis pendiam itu pasti akan merasa kesakitan yang luar biasa saat perkakas Mas Faiz-nya masuk menembus selaput keperawanannya. 
Kuraba pula putingnya yang menonjol kehitaman dibalik kaos tipisnya. Namun itu pun tak lama karena ia menelungkupkan badannya. Kini kubisa melihat bokongnya yang besar dan semok. Membongkah membuat belahan yang nyata di balik celana dalamnya. Kuusap-usap dan karena tak ada respon maka kucoba meremas-remasnya. Ragu, kuhentikan gerakanku.
Seteah beberapa kali ku ambil foto Mas Faiz aku berniat kembali duduk di belakang komputer. Namun, saat kuberanjak hendak kembali ke belakang komputer tiba-tiba kudengar Mas Faiz memanggilku.
"Riki,," Aku lantas membalikan badan dan dengan rasa bersalah bercampur malu aku menghampiri Mas Faiz dan meminta maaf.
"Mas afwan, saya tadi khilaf..." tanpa diduga tiba-tiba Mas Faiz memelukku dan menindihku. "Mas Faiz?"
"Tidak apa-apa Ki. Mas Faiz paham dengan apa yang Riki rasakan. Mas Faiz juga pernah merasakan rasa yang sama pada Kang Rijal." Mas Faiz menyebut mantan ketua rohisku yang sekaligus tetangga kostanku. "Tapi Mas Faiz tidak seberani kamu dan tidak seberuntung kamu." Tatapannya yang tajam seperti meyakinkanku bahwa segalanya baik-baik saja.
"Kau mau ini, Ki? Mas Faiz mengenggam tanganku dan mengarahkan pada perkakasnya yang tegang. Aku kaget. 'Gak usah malu, Ki. Ayo, jangan malu-malu. Kamu pasti pingin memegangnya lagi kan?"
Aku menatap mata elang itu yang berubah menjadi begitu teduh. "Mas?" Aku mayakinkan dan ia menjawabnya dengan sebuah anggukan dan..kecupan tepat di bibirku. Karena kaget aku hanya diam saja.
"Koq malah bengong?" Kemudian ia mengecup bibirku dan tanpa ragu kubalas kecupan itu dengan lumatan dan hisapan. Bibirnya yang tipis sempurna ku kecup. Lantas bibirku pindah ke janggut tipisnya, telinganya, dan lehernya yang membuat Mas Faiz mendesah.
Mendengar desahan Mas Faiz aku semakin semangat. Ku turun mengecupi putingnya dari balik kaos putihnya, semakin turun dan tepat di depan mataku perkakas Mas Faiz menonjol. Ku tatap wajah Mas Faiz dan ia membalas dengan anggukan dan senyuman tanggungnya yang hangat.
Mas Faiz...
Kukecupi perkakasnya yang semakin mengeras itu. Karena tak tega melihat perkakas besarnya ingin bebas keluar dari celana dalam ketat Mas Faiz, kubuka celana dalam Mas Faiz dan...
Sebilah perkakas besar dengan ujungnya yang mirip kuncup jamur menunjuk lurus tepat di depan hidungku. Aroma khas langsung menyapa hidungku. Ternyata perkakas Mas Faiz lebih besar dari yang kubayangkan. Lebih panjang, besar, keras, dan ternyata hanya sedikit rambut saja yang tumbuh di sana. Kupikir Mas Faiz rajin mencukuri rambut di daerah kemaluan dan ketiaknya sesuai dengan sunnah kanjeng Rasul.
Tanpa menunggu persetujuan Mas Faiz langsung saja kulumat perkakas dan buah jakarnya yang menggantung besar sekali itu. Otot bawah Mas Faiz, termasuk pantat dan pahanya, menegang saat kuhisap ujung perkakasnya.
"Ohh..." desah Mas Faiz sambil mencengkram kepalaku seakan tak ingin perkakasnya lepas dari jilatan lidahku.   
Sambil kuhisap perkakasnya yang semakin membesar--ternyata perkakasnya tadi belum sampai pada ukuran maksimalnya, jadi penasaran bisa sebesar apa batang kejantannya ini?--ku remas-remas bongkahan pantatnya yang besar. Jari telunjukku menyelusup di antara bongkahan pantatnya, mencari lubang anusnya. Ah, kudapatkan juga titik itu, hangat dan sempit.
“Ahh, Ki...” kulihat ekspresi wajah Mas Faiz yang tak pernah kulihat sebelumnya. Matanya terpejam dan beberapa kali ia harus mengigit bibir bawahnya untuk menahan diri agar tidak berteriak karena kegelian.
Aku semakin semangat menghisap dan membiarkan perkakas besar itu keluar masuk mulutku. Semakin cepat dan seiring dengan desahan nafas Mas Faiz yang memburu dan cengkaraman tangannya. Tiba-tiba seluruh badannya menegang dan cengkraman tangannya semakin kuat.
“Ki!” Mas Faiz setengah berteriak dan saat itu juga kurasakan cairan kental dan hangat muncrat di dalam mulutku. Mas Faiz langsung duduk terkulai dan mungkin karena lemas atau apa ia tersungkur. Aku sempat kasihan melihat Mas Faiz kecapekan seperti itu namun begitu melihat pantatnya yang besar langsung saja kududuk di belakang pantat Mas Faiz.
“Ki, mau apa lagi kamu Ki?”
Tak kuhiraukan pertanyaan Mas Faiz. Langsung kuremas-remas pantat itu sehingga kubisa melihat lubang anusnya yang kemerahan terjepit di antara bongkahan pantatnya. Kujilati lubang yang hangat itu.
“Ah...Ki,” Mas Faiz mendesah namun kurasa ini desahan kenikmatan.
Setelah beberapa kali kujilati, kumasukan jari tengahku. Mas Faiz sempat mengeluh kesakitan karena lubang anusnya memang masih sempit. Namun lama-kelamaan nampaknya lubangnya itu beradapatasi dengan jari tengahku. Setelah kudiamkan beberapa lama, kumasuk dan keluarkan jari tengahku perlahana-lahan dan Mas Faiz pun mendesah. Setelah kukira lubang itu sudah cukup terbiasa, kubuka resleting celanaku dan kukeluarkan perkakasku yang sudah tegang dari tadi.
“Ki!”
Lagi-lagi aku tak menghiraukan Mas Faiz lagipula Mas Faiz tak bisa berbuat apa-apa.
“Ah!” Mas Faiz setengah berteriak saat perkakasku sedikit demi sedikit masuk ke lubang anus Mas Faiz yang sempit.
“Maaf Mas, tapi ini salah Mas juga. Tadi Mas yang mulai,” bisikku di telinganya sambil memasuk dan keluarkan perkakasku dari lubang anus Mas Faiz yang kini sudah tidak perjaka. Mas Faiz tidak menjawab.
Kuubah posisi tubuh Mas Faiz. Kini kubisa melihat ekspresi wajahnya dengan jelas. Dan selagi perkakasku sibuk menyodok lubang anus Mas Faiz kubisa mengecupi selruh tubuh Mas Faiz yang basah oleh keringat dan bercampur dengan aroma parfum non-alkoholnya. Ketika kupegang-pegang perkakasnya yang sudah agak mengerut tiba-tiba perkakasnya kembali menegang. Ah, sudah lama nampaknya Mas Faiz tidak mimpi basah--karena kupikir Mas Faiz tidak pernah melakukan onani atau masturbasi. Dengan semangat kukocok perkakas Mas Faiz dan hampir bebarengan kurasakan perkakasku siap untuk menembang. Lantas kutarik perkakasku dan kubiarkan cairan spermaku muncrat di atas perut six pack Mas Faiz. Tak lama setelah itu, crat! Cairan putih hangat muncrat di wajahku. Ah Mas Faiz..
Aku kelelahan dan membiarkan tubuhku berbaring lemas di atas tubuh Mas Faiz. Nafas kami sama-sama memburu. Setelah dirasa cukup mengumpulkan tenaga kami membersihkan diri karena hari sudah hampir pagi.
“Kapan-kapan kita nginep lagi di sekre ya?” Tanya Mas Faiz sambil tersenyum saat kami sampai di depan kostan ku.
Aku mengangguk, "ya, dan mungkin enggak cuma berdua." Mas Faiz nampak bingung. "Kang Rijal pasti seneng kalau di ajak juga." Mas Faiz makin bingung tapi kubiarkan saja ia berdiri dengan wajah bingung sedangkan aku masuk ke dalam kostanku.


Keterangan:
Ana: Saya
Antum: Kamu
Akhi/Akh: Panggilan persaudaraan untuk laki-laki
Afwan: Maaf
Khitbah: Melamar
Ikhwan: Lelaki



Tidak ada komentar:

Posting Komentar