Rabu, 22 Juli 2015

Penyerahan Tubuh Diaz



Namaku Diaz Putra. Aku anak tunggal dari seorang pedagang elektronik yang berhasil. Umurku 15 tahun dan saat ini masih duduk di kelas 3 SMP. Sebagai anak tunggal, aku sangat dimanja oleh kedua orang tuaku. Aku diberi kendaraan sendiri berupa motor. Di sekolah, aku termasuk terkenal dan banyak cewek-cewek yang naksir, kebanyakan kakak2 yang duduk di SMA. Tetapi sejauh ini, aku hanya tersenyum saja saat didekati mereka. Belum saatnyalah aku pacaran. Ayahku sangat tegas dalam hal ini. Namun, ternyata nasib tidak selalu dapat diterka. Saat kerusuhan Mei, toko elektronik ayahku habis terbakar. Ayahku kehilangan segalanya. Dia tidak memiliki apapun lagi. Akupun terkena imbas. Tak ada lagi kendaraan dan supir pribadi.

Ayahku yang memiliki segalanya sekarang tiba2 jatuh miskin. Ditambah lagi, dia harus membayar hutang pajak yang masih tertunggak. Ayah sangat bingung saat petugas pajak bernama pak Amir selalu datang setiap hari untuk memperhitungkan harta benda tersisa yang dapat dijual. Hari itu, tidak biasanya ayah memanggilku ke tempat kerjanya. Aku melihat pak Amir sedang duduk di sampingnya. Saat itu, aku hanya mengenakan boxer dan bertelanjang dada. Keindahan tubuh ramping dan dada bidang khas remaja ku yang terlihat habis disantap oleh pak Amir. Aku abaikan saja pandangan bandot tua yang usianya mungkin lebih tua dari ayahku sendiri. Ayah berbicara panjang lebar tentang kesulitannya untuk membayar hutang pajak serta tawaran pak Amir untuk membantunya keluar dari kesulitannya tersebut. Tapi tawaran itu ada harganya: tubuh perjakaku ....!!

Aku tercekat. Rasanya aku berada di dalam mimpi. Ayahku yang sedemikian melindungiku sekarang malah mau membayarkan hutang pajaknya dengan tubuhku. Ayahku menatapku dengan pandangan memohon yang membuatku tidak mampu menolak permintaannya. Akupun tanpa sadar menunduk tanda mengiyakan. Ayahku keluar dari ruangan itu sambil tertunduk lesu. Saat pintu tertutup, pandanganku beralih ke muka bandot tua yang sedang tersenyum kegirangan. Diapun memanggil aku untuk mendekat ke arahnya. Terasa bagai mimpi, saat aku berjalan mendekatinya. Saat aku sudah berdiri di dekatnya, dia seakan kagum melihat bentuk tubuhku yang ideal. Kulitku kuning langsat karena aku memang keturunan tionghoa. Tak puas hanya memandangiku, tangannya pun mulai menjamah tanganku yang mulus dan bersih. Aku diam saja saat tangannya mulai menjalar ke pahaku. Lalu mulai menyusup masuk celana boxerku. Aku tidak berani melawan kehendak bandot tua itu. Sehingga diapun merasa mendapat angin. Dia mulai meraba dada bidangku dan memilin-milin putting kecil ku yang berwarna pink . Tak tahan lagi,  secara paksa pak Amir membuka boxer ku yang berwarna biru. Akupun sekarang berdiri dengan hanya mengenakan celana dalam saja. Tubuh laki-laki remaja ku yang mulus semakin terlihat. Pak Amirpun bangkit dari duduknya dan mulutnya yang berbau cengkeh melahap bibirku yang merah dan mungil.

Aku hampir kehabisan nafas!! Inilah pertama kalinya aku dicium apalagi oleh sesama jenis. Dan ironisnya, seorang tua homo. Tangannya yang besar dan berbulu menjamah tubuhku dengan kasarnya, mulai denga meremas-remas dada ku, memilin dan menarik-narik putingku dan mengusap-usap pantatku di balik celana dalamku. Sejenak dia melepaskan genggamannya. Akau heran tatkala dia membuka celana panjang serta celana dalamnya. Untuk pertama kalinya, aku melihat alat kelamin pria. Belum habis rasa kagetku, aku dijengut secara paksa dan dipaksa berlutut dihadapan penisnya. Aku sempat tertegun saat secara paksa dia memasukkan penisnya ke mulutku. Aku sempat memuntahkannya karena merasa sangat jijik. Tapi perlawananku terasa tidak ada gunanya. Aku terpaksa menutup mataku saat mulutku dipaksa untuk mengulum penis pak Amir yang ternyata sangat besar itu. Mulutku yang mungil tidak mampu menelan seluruh batang penisnya sehingga aku begitu gelalapan.

Kepalaku dipaksa dengan mendorong keluar masuk penisnya. Aku hampir menangis tetapi aku berkata dalam hati bahwa aku harus tegar. Aku melakukan ini karena ingin membalas budi ayahku selama ini. Toh ini cuma soal tubuhku saja. Tiada artinya bila dibanding dengan semua kenikmatan yang aku rasakan. Mengingat hal itu, aku mengambil keputusan untuk memuaskan bandot tua ini semampuku agar dia membantu ayah untuk keluar dari masalahnya. Aku yang tadinya merasa terpaksa dalam meladeni pak Amir dan hanya bersikap pasif saja, mencoba untuk merubah sikapku. Batang penis yang tengah berada di mulutku yang awalnya terasa menggangu, coba aku nikmati. Aku mulai memainkan lidahku untuk menambah kenikmatan “tuan”ku ini. Pak
Amir tersenyum saat merasakan perubahan sikapku yang mulai aktif itu. Sekarang giliran dia yang memegang peranan. Pak Amir menyuruh ku berdiri dan dengan rakusnya, dia melahap putting susuku. Ternyata dia ahli memainkan mulut dan lidahnya. Aku mulai terangsang dan tanpa sadar, aku memeluk kepala pak Amir yang mulai botak itu. Seakan aku ingin menikmati kenikmatan itu lebih lama lagi. Namun, mulut dan lidahnya mulai menjalar turun ke selangkanganku. Celana dalamku menjadi basah oleh ludahnya dan tak terasa air pre-cumku pun terpancar keluar karena aku sudah tidak kuat lagi menahan kenikmatan dari permainan lidah bibir pak Amir. Ah, bandot tua ini sangat hebat. Aku menjadi senang terhadap keahliannya. Secara perlahan, pak Amir membuka celana dalamku yang sudah basah itu. Dia menjilati air precumku bahkan mengisap penis mudaku. Aku menjadi tambah bergairah saat kepala penisku dipermainkan oleh lidahnya. Aku hanya bisa merem melek saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian, akupun dilemparkan ke sofa. Badanku yang sudah terlanjang didekati olehnya. Aku bisa melihat penisnya yang menjulang panjang dan besar. Aku merasa sedikit ngeri membayangkan bagaimana benda sepanjang itu memasuki tubuhku yang kurus ini. Dan benar. Saat penis pak Amir membelah lubang anusku, aku menjerit nyaring karena sakit yang kurasa. Tapi pak Amir seakan tidak menghiraukannya.


Sodokan demi sodokan dilakukannya dengan penuh tenaga. Sakit yang awalnya kurasa berubah menjadi kenikmatan, sehingga akupun mulai mengimbangi gerakan pak Amir. Dia agak terkejut melihat respon yang kuberikan, dan semakin bergairah saja saat dia menyuruhku berganti posisi duduk di atasnya. Aku yang kini memegang kendali semakin menunjukkan aktivitasku sehingga sekarang pak Amir yang merem melek. Aku harus memuaskan dia, begitu yang ada di dalam pikiranku. Dan pak Amirpun tidak bisa menahan lebih lama lagi pancuran air maninya. Dia menyiramkannya ke atas tubuhku. Aku tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian intimku yang pertama ini. Sejak itu, usaha ayah kembali lancar tanpa beban pajak. Kehidupan berjalan dengan lancar, tetapi aku malah tidak dapat melupakan kejadian tersebut. Pak Amir sudah tidak datang lagi ke rumahku. Setiap hari aku membayangkannya, gairah seksku kembali timbul. Bila terpaksa, aku sering beronani sendiri. Pikiranku sekarang menjadi mesum sehingga sukar untuk focus kepada ulangan umum yang tinggal sebentar lagi. Akibatnya, aku terancam tidak lulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar