Jumat, 17 Juli 2015

Kehidupan Gay Selebritis Bertarif Rp 10 Juta



Jakarta - Semakin malam, suasana di sekitar Lapangan Banteng, Jakarta Pusat,  semakin ramai. Sejumlah pria muda berdiri di pinggir jalan. Sesekali mereka melambaikan tangan kepada pengemudi yang melintas.

Pria muda-pria muda yang ngeceng di pinggir jalan itu, sebagian besar adalah para gigolo yang siap diajak kencan. Para pelanggan umumnya adalah kalangan gay atau kaum biseksual.

Salah satu pria yang meramaikan kehidupan malam di Lapangan Banteng itu mengaku bernama Budy Franki. Ia terlihat sedang duduk di halte pemberhentian bus. Beberapa kali ia berbincang-bincang dengan pengemudi mobil yang menghampirinya. Namun tidak ada satu pun yang deal.

Akhirnya pria berkulit putih dengan rambut tersisir rapi ini kembali  menunggu. Bagi pria kelahiran Kalimantan 26 tahun lalu itu, kondisi seperti itu sudah biasa dilakoninya.

Dengan memainkan sebatang rokok, pria ini melemparkan senyum. Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya Budy Franki masuk ke dalam mobil. Pria ini tanpa banyak bicara langsung memperkenalkan diri dan memberitahukan tarifnya.

"Bagaimana kalau Rp 300 ribu untuk short time? Kalau tidak setuju, silakan berputar dan turunkan saya di tempat semula atau di Hotel Borobudur," katanya.

Di dalam mobil, ia kemudian menunjukkan lokasi-lokasi yang jadi tempat langganan untuk berkencan penjaja seks Lapangan Banteng. Umumnya hotel-hotel tersebut berada di Jalan Gunung Sahari, Jalan Taman Sari  dan Jalan Pecenongan. Soalnya ketiga lokasi tersebut dekat dengan tempat mangkal. Sehingga mereka tidak kejauhan untuk mejeng lagi setelah kencan.

Budy Franki mengaku ia menjadi gigolo atau mulai melacurkan diri sejak 8 bulan lalu. "Semua berawal dari seorang teman kuliah yang telah menjadi gigolo. Ia biasa nongkrong di Petamburan dan Cempaka Putih," jelasnya.

Para gigolo ini harus mau melayani siapa saja yang berani membayar mereka untuk berkencan. Konsumen mereka bisa perempuan atau laki-laki.

Ciri lama dari seorang gigolo adalah menggunakan cincin di jari kelingking dan anting di telinga sebelah kiri. Ciri itu kini sudah tidak digunakan lagi. Begitupun dengan sapu tangan di saku kemeja.

Ciri-ciri itu mereka anggap sekarang sudah basi dan jadul. Sebab saat ini mereka punya cara tersendiri untuk mencari "mangsa". Baik itu berupa lirikan atau tanda-tanda khusus yang lazim dikenal bagi kalangan mereka.

Hal yang sama juga dilakukan gigolo yang telah menjadi simpanan seorang pria tengah baya, sebut saja Eko. Pria ini memutuskan menjadi brondong seorang pria beristri untuk menutupi kebutuhan hidupnya.  Menurut Eko gadun-nya (pria dewasa yang memelihara gay) itu adalah seorang pejabat di Kantor Gubernur Lampung. Gadun yang berusia 56 tahun ini hanya 4 kali dalam sebulan datang ke Jakarta untuk minta dilayani.

Seorang germo gigolo, Bobby Sridevi Bollywood, menyatakan, pria muda terjerumus menjadi gigolo sebagian besar disebabkan karena masalah ekonomi dan kelainan seks sejak lahir.

"Mungkin hanya 30 % saja yang bersedia melakukan pekerjaan ini karena disebabkan balas dendam atau sakit hati," terang Bobby kepada detikcom.

Bobby yang sering mendapatkan order dari selebritis untuk membuat event striptease pria atau kaum gay itu mengaku, ia menjadi gay karena kodrat. Ia tidak menyesali kondisinya tersebut. Bahkan dengan menjadi gay, Bobby merasa bisa mandiri dan membantu keluarganya.

Untuk mencari anak buahnya, Bobby tidak terlalu sulit karena mayoritas para calon kucing ( sebutan bagi PSK yang bisa melayani pria dan wanita ) atau calon gigolo ini yang datang kepada Bobby.

Menjalankan bisnis pelayanan seks seperti itu, menurut Bobby gampang-gampang susah. Karena bisnis ini dilandaskan kepada  kepercayaan.

Untuk event striptease dengan 3 pria berbadan atletis Bobby memasang tarif Rp 3 juta. Sementara, gay dari selebritis dipatok dengan harga Rp 10 juta.  "Untuk paket dengan selebritis pria minimal Rp10 juta, " urai Bobby.

Menurut Bobby, banyak selebritis yang melakukan pekerjaan sampingan seperti ini karena terseret kehidupan glamour. Bobby menambahkan para selebritis ini umumnya sadar mereka sebenarnya tidak mampu untuk mengkuti kehidupan kaum jet set ala Hollywood.

"Jangan dianggap kalau sudah jadi artis, uang mereka banyak. Yang ada utang mereka yang banyak," tegas Bobby seraya menambahkan artis-artis di Indonesia banyak yang menolak disebut gay karena takut berpengaruh terhadap ordernya.

(ron/ddg)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar