Jumat, 17 Juli 2015

KISAH CINTAKU



 https://gaystoriesfromindonesia.wordpress.com/2013/03/15/my-true-story/

I.     Awal Bertemu

24 januari 2010. Hari itu tepat pada hari Minggu, 4 hari setelah aku berulang tahun yang ke 16. Dimana pada saat itu aku sedang menjalani ujian kenaikan sabuk karate. Setelah upacara pembukaan, jogging, dan juga senam, ujianpun dimulai. Diawali dari sabuk terendah, yaitu sabuk putih. Berhubung aku telah mencapai sabuk kuning, terdapat waktu luang untuk beristirahat. Namun sebagian besar peserta ujian menggunakan waktu tersebut untuk berlatih KATA (peragaan jurus). Termasuk di dalamnya aku. Aku tidak ingin gagal dalam ujian ini. Walau SENPAI (pelatih) ku menjamin aku pasti lulus karena berkemampuan di atas rata-rata. KATA yang harus aku tampilkan sebagai pemegang sabuk kuning adalah KATA pertama, kedua, dan ketiga. Namun, aku tetap berlatih KATA keempat yang sudah aku kuasai dan notabene adalah KATA yang hanya digunakan oleh pemegang sabuk hijau ke atas. Pada saat aku berlatih KATA keempat, datanglah seorang anak yang memakai sabuk hijau meminta izin untuk latihan bersama. Akupun menerima tawarannya yang menurutku sangat menguntungkan.

15 menit kemudian, para pemegang sabuk kuning dipanggil untuk mengikuti ujian. Aku mendapatkan nomer urut 5 yang berarti aku berada di barisan paling depan, pojok kiri. Huft, aku jadi gugup. Walau aku gugup, aku tetap berusaha menunjukkan yang terbaik. 15 menitpun berlalu. Aku keluar ruangan sambil bernafas lega. Saat aku keluar ruangan, aku berpapasan dengan para pemegang sabuk hijau. Dan aku melihat anak yang latihan bersamaku berada diantara mereka. Dan akupun menyemangatinya.

Tubuhku mulai terasa capai karena tadi aku sudah mati-matian mengeluarkan seluruh kemampuanku di depan para tim penguji. Aku merasa lapar yang sangat menyiksa. Akhirnya kuputuskan untuk membeli makanan di kantin. Ternyata disana sudah penuh oleh para karate-ka bersabuk putih dan beberapa diantaranya bersabuk kuning. Karena kecewa, aku berniat menggagalkan niatku untuk membeli makanan disana. Namun, saat aku membalikkan badan, ada yang melemparkan kerikil ke arah kakiku. Spontan aku membalikkan badanku. Aku menangkap pemandangan yang sama seperti sebelum aku berbalik. Namun ada yang berbeda. Terdapat seorang anak kecil bersabuk kuning yang kutaksir umurnya 7 tahun. Dia berwajah manis dan imut. Dia tersenyum dan memanggilku. “mas, kok balik? Ndak mau makan tah?”, tanyanya. “wah, rame dek. Bikin males. Mana masih harus ngantri. Pasti lamanya minta ampun.”, jawabku sambil tersenyum. “hmmmm. Mas lapar banget deh kayanya. Nih, punyaku. Makan aja dulu. Ntar aku pesen lagi. Eitt, tapi jangan lupa bayar ya mas.”, kata anak itu sambil tersenyum. Aku bingung. Ingin menerima karena sudah sangat lapar sekali. Namun tidak enak sama anak itu yang harus menunggu lebih lama untuk makan. “mas! Kok malah bengong? Ini makanannya. Aku tadi udah sarapan. Gak usah khawatir!”, ujarnya meyakinkanku untuk menerima makanan darinya. Kemudian kuputuskan untuk menerimanya. Ada rejeki jangan ditolak. Ndak ilok kata orang jawa. Setelah selesai makan aku berniat membayarnya. Namun pemilik kantin menolak. Sudah dibayar katanya. “Hah?”, Aku bingung. Aku bertanya pada pemilik kantin siapakah yang membayarkan makanan milikku ini. Pemilik kantin menjelaskan bahwa makanan yang sudah aku makan itu sudah dibayar oleh anak kecil yang tadi memberikan makanannya untukku. Aku kaget. Aku bertanya apakah anak itu membeli makanan lagi dan apakah sudah membayarnya. Pemilik kantin hanya menjawab dia membeli lagi dan sudah membayarnya. Aku semakin tidak enak hati kepada anak itu. Aku harus mencarinya. Kemudian aku berterima kasih pada pemiik kantin itu.

Aku setengah berlari mencari anak kecil yang berbaik hati kepadaku tadi. 30 menit aku mencari. Namun tak berbuah apa apa. Saat aku akan menyerah, ada yang menepuk punggungku. Ternyata dia anak kecil yang tadi berlatih bersamaku. “mas, cari Dwiki yah?”, tanyanya. “Dwiki?” tanyaku kebingungan. “iya. Yang tadi ngasih makanan ke mas.”, ujarnya menjawab kebingunganku. “oh. Iya dek. Kok kamu tahu? Trus sekarang dia kemana?”, tanyaku lagi. “wih wih! Sabar mas. Gak sabaran banget sih.”, jawabnya. “ok ok! Sekarang jawab pertanyaanku yang pertama dulu. Baru yang kedua!”, perintahku. “gini loh mas. Dwiki tuh satu ranting sama aku. Tadi pas aku ketemu dia, dia lagi senyum sendiri. Aku kagetin dia. Nah pas aku tanya kenapa senyum sendiri, dia cerita deh tentang mas. Hehe.”, ujarnya. “trus, dia kemana sekarang?”, tanyaku lagi. Bukannya menjawab pertanyaanku malah dia tertawa. Aku bingung. Dan kebingunganku bertambah saat sepasang tangan menutup kedua mataku. “hayo! Tebak siapa?”, ujar seseorang yang menutup mataku. “hmmm. Siapa ya?”, ujarku penuh pura-pura. Padahal aku tahu bahwa anak itu adalah Dwiki, seorang anak kecil yang sangat baik hati. “ah, mas gak asik nih. Masa nggak inget?”, Ujarnya sedikit ngambek. Aku lepas tangan itu tanpa berbalik. “kamu Dwiki kan? Yang tadi udah ngasih mas makanan dan ngebayarin makanan mas?”, Jawabku tanpa menoleh. Tak kusangka, ternyata ia memelukku dari belakang. “hore! Mas masih inget sama aku.”, ujarnya kesenangan. Aku terheran-heran diperlakukan seperti itu. “Dia sangat mengidolakan mas.”, ujar anak yang tadi berlatih bersamaku. Aku berbalik dan balas memeluknya. Aku merasakan kehangatan pelukan dari seorang adik yang telah lama tidak kurasakan karena kembaranku telah wafat 6 tahun lalu. Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku dan pipinya. “mas, kok nangis?”, tanyanya. Aku kaget. Aku hanya menjawab mataku kemasukan debu sambil menghapus air mataku. Alasan klasik untuk menipu anak kecil. Akhirnya kami bersenda gurau hingga ada pengumuman agar para  karate-ka berkumpul di ruang ujian.

Kami bertiga segera menuju ruang ujian. Di ruang ujian kami diberi nasihat oleh para tim penguji dan terdapat penampilan KATA oleh SENPAI Eva dan KUMITE (pertarungan) oleh karate-ka bersabuk biru dan cokelat. Aku sangat ingin mencoba ber-KUMITE, namun Karate-ka yang bersabuk kuning belum mendapatkan izin karena masih awam. Walaupun bersabuk kuning, aku mampu mengalahkan sabuk biru senior. Karena  kelebihanku adalah Kelincahan dan energiku yang mudah kembali.

Setelah penampilan selesai, kami semua melakukan upacara penutupan. Upacara itu adalah tanda bahwa kegiatan ujian kenaikan sabuk karate pada hari itu. Dan kami, para karate-ka pulang dengan rasa capai yang tiada taranya.

II.   Pertemuan Kedua

11 April 2010. Hari Minggu yang melelahkan. Hari itu aku sedang menjalani GASHUKU di Pantai Pasir Putih. Seperti kegiatan sebelumnya. GASHUKU diawali upacara, jogging, dan juga senam. Namun kali ini, senam didahulukan dan aku sekarang menggunakan sabuk hijau. Jogging yang aku lakukan tidak hanya jogging biasa. Jogging yang aku lakukan adalah jogging variasi. Dimana saat jogging, aku juga diharuskan melakukan latihan fisik lainnya. Misalnya, merayap di bawah jembatan, scout jump, dan berlari di dalam air. Jalur joggingpun lumayan jauh. Sekitar 1 kilometer lebih.

Saat jogging, aku bertemu dengan 2 anak kecil yang bersamaku saat ujian kenaikan sabuk sebelumnya. Mereka berdua mengikutiku seolah olah aku ini adalah induk mereka. Aku berpura pura tidak melihat mereka dan terus berlari. Mereka tetap seperti itu. Kemudian aku mendadak berhenti dan mengagetkan mereka berdua. “hayooo! Ngapain?”, ujarku. “hehe. Cuma ngikutin mas kok. Gak boleh ya?”, ujar Dwiki sambil memasang mimik ngambek. Aku tahu dia cuma pura-pura. Namun aku pura-pura menyesal. “udah donk, Ki. Jangan ngambek gitu. Mas murdhani kan jadi sedih juga. Ntar kalau Dwiki ngambek, mas Murdhani nangis deh.”, candaku. Kulihat perubahan ekspresi wajahnya. Dia kembali ceria seperti sebelumnya. “ya udah. Dwiki nggak sedih lagi. Yang penting mas Murdhani gak sedih lagi.”, ujarnya. “janji ya? Jangan di ulangi lagi!”, tanyaku memastikan. “iya mas. Dwiki janji. Dwiki ndak bakalan ngambek lagi.”, ujarnya seraya tangannya membentuk angka dua. Kemudian kami kembali jogging sambil mengobrol hingga sampai di tempat latihan pertama.

III.  Latihan Pertama

Latihan pertama adalah latihan KIHON (gerakan dasar) dan KATA. Entah kenapa pada saat latihan kihon aku tidak bisa berkonsentrasi. Mataku selalu melirik ke arah Dwiki. Entah kenapa aku tak dapat mengalihkan mataku dari tubuhnya. Aku selalu memperhatikan tiap gerakannya secara detail. Tangannya, kakinya, badannya, bahkan suaranyapun tak luput dari perhatianku. Apakah mungkin aku sedang jatuh cinta pada seorang anak kecil, yang pastinya belum tahu arti persahabatan, apalagi indahnya mencinta dan dicinta? Tanpa disadari, gerakan tubuhku mulai melemah karena aku tak berkonsentrasi lagi.

“woi, mur! Ngapain kamu? Cengangas cengenges sendiri.”, teriak SENPAI Ikbal, pelatihku saat itu. Teriakannya mampu membuat seekor Brontosaurus pingsan. Dan teriakan itu dilakukan dengan jarak hanya sejengkal dari telingaku. Wuih, bisa dibayangkan betapa terkejutnya aku saat itu. Dan lagi, teriakan itu membuat seluruh karate-ka bersabuk hijau menoleh dan menatapku dengan perasaan heran dan iba. Heran karena pada saat GASHUKU yang harusnya serius, bisa-bisanya aku melamun. Dan iba karena mereka merasa teriakan tadi pasti membuat telingaku tuli selama beberapa menit. Wajahku memerah seketika. Untungnya aku berada di barisan paling belakang pojok kiri. Sehingga tidak terlalu malu kepada karate-ka yang lainnya. SENPAI Ikbalpun merasa heran. Yang beliau tahu, aku adalah orang yang pada saat latihan itu celometan namun serius dan penuh konsentrasi. Namun sekarang aku menjadi pendiam dan tak berkonsentrasi lagi. Walau beliau pelatihku di ranting, namun beliau tidak pilih kasih. Dia tegas akan menegur siapapun yang tidak berkonsetrasi pada latihannya. Itulah alasan mengapa aku pernah jatuh cinta pada beliau. Dan yang pasti beliau menolakku karena beliau pria yang normal. Namun beliau bersikap seolah kejadian itu tidak pernah terjadi. beliau tak mengurangi perhatiannya padaku, selaku muridnya, dan tidak pernah sedikitpun berusaha menjauhiku.  “Mur, kamu keluar barisan dulu sana!”, perintahnya kepadaku. “SENPAI Ida, tolong lanjutkan kembali latihannya! Saya akan mengurusnya sebentar.”, ujar beliau pada SENPAI Ida. “kalian lanjutkan latihan bersama SENPAI Ida dahulu!”, tambah beliau pada para karate-ka bersabuk hijau.

SENPAI Ikbal mendekatiku yang bernaung dibawah pohon kelapa. Kepalaku tertunduk menahan malu yang teramat sangat. “Murdhani, kamu kenapa tadi kok nggak konsentrasi? Ada masalah atau jangan-jangan kamu jatuh cinta sama salah satu karate-ka yang disana?”, tanya beliau kepadaku seraya menunjuk ke arah tempat aku latihan tadi. Tebakannya sangat akurat. Beliau tersenyum padaku. Aku heran darimana beliau bisa tahu isi hatiku. “sudahlah, nggak usah bingung gitu. Tubuh dan matamu yang menjelaskan semuanya.”, ujarnya menjawab keherananku. “tapi kok……”. Ucapanku terpotong oleh jari telunjuk yang menempel di bibirku. “ssttt. Nggak usah pake teriak. Kamu pengen tahu kenapa saya tahu apa yang ada di pikiran dan hatimu tadi? Iya, kan? Kita pindah dulu sebelum saya cerita.”, tanya beliau.

SENPAI Ikbal kembali ke tempat latihan untuk meminta izin pada SENPAI Ida. “SENPAI, maaf mengganggu. Sepertinya masalah Murdhani harus dibicarakan lebih tertutup. Karena itu sangat rahasia baginya. Bolehkan saya mohon izin lebih lama untuk menyelesaikannya?”, tanya beliau pada SENPAI Ida. Akhirnya SENPAI Ida mengizinkan.

SENPAI Ikbal mendekatiku lagi dan mengajakku pindah menuju pantai yang sepi. Akupun mengikutinya dengan patuh. Sampai di tempat tujuan, kami hanya diam seribu bahasa. Aku terlalu malu untuk bertanya. Sedangkan beliau masih sibuk melempar batu ke laut. Kulihat dan kuperhatikan wajahnya yang tampan itu. Umurnya masih 21 tahun. Hanya selisih lima tahun dari umurku. “heh! Ngapain liatin wajahku kaya gitu? Cakep ya?”, candanya mencairkan suasana yang kaku dan canggung ini. “aduh SENPAI, Ngagetin mulu nih kerjaannya. Untung aku nggak punya penyakit jantung. Coba kalau punya, pasti udah koit dari tadi. Hobi ya, ngagetin orang? Cakep sih cakep. Tapi hobinya aneh.”, ujarku. “yey! Malah ngambek. Jangan ngambek donk, ntar aku nangis nih.”, ujar beliau sambil tersenyum. “eh, itu kan? SENPAI tahu darimana kata-kata itu?”, tanyaku. Beliau berusaha menahan tawanya agar tidak meledak. Sepertinya beliau merasa aku sangat lucu saat itu. “emangnya aku badut apa, diketawain? Bukannya jawab, malah gitu.”, sungutku. Kulihat beliau berusaha meredam tawanya dan berhasil melakukannya. “kamu mau saya jawab yang mana dulu? Yang tadi atau yang barusan?”, tanyanya. “yang tadi aja!”, jawabku pendek. Aku masih merasa kesal pada beliau. Ngagetin, bikin malu, niru kata kataku, ngetawain lagi. “ tubuh kamu terpusat pada satu tempat, mata kamu terlihat sayu dan selalu memperhatikan satu orang, telinga kamu selalu berusaha mendengar suara satu orang, dan yang terakhir adalah semua itu hanya kamu lakukan pada beberapa hari sebelum kamu menyatakan cinta kepada saya.

Dari situlah saya tahu kamu sedang jatuh cinta pada Dwiki.”, ujar beliau. “da.. da.. darimana SENPAI tahu namanya?”, tanyaku terbata-bata. “tadi kamu kan tanya, darimana saya tahu kata kata yang tadi? Iya, kan? Tadi waktu jogging, saya ada di depanmu. Waktu kamu ngobrol sama Dwiki, saya dengerin. Jadi jangan heran kalau saya tahu kata kata kamu dan juga nama anak itu. Dan sepertinya dialah yang akan menggantikan posisi kembaran kamu, si dhana yang sudah wafat.”, terangnya padaku. Tebakannya lagi lagi sangat akurat. “SENPAI, kenapa ya aku harus dilahirkan GAY? Dan kenapa pula aku harus jatuh cinta pada anak kecil?’, tanyaku. “Murdhani, Allah pasti memiliki tujuan mengapa kamu dilahirkan sebagai penyuka sesama jenis. Suatu saat kamu pasti akan mengetahuinya. Dan saya mengerti mengapa kamu jatuh cinta pada seorang anak kecil yang masih polos. Mungkin kamu tuh terlalu kecewa karena dulu saya tidak membalas perasaan kamu. Jadi kamu takut untuk menyukai seseorang yang lebih dewasa dibandingkan kamu”, terangnya. Aku rasa jawaban itu adalah jawaban terlogis yang menjadi jawaban dari pertanyaanku. “SENPAI, apa aku salah mencintai Dwiki? Apa yang harus aku lakukan? Aku nggak mungkin ngerubah dia menjadi seperti aku.”, tanyaku sambil terisak. Beliau mendekapku dan berkata, “kamu nggak salah. Kamu boleh terus mengejar cinta kamu. Tapi hati hati dengan pilihanmu!”. Akhirnya aku menangis di bahunya sampai puas, karena beliau juga sudah merelakan bahunya menjadi tempatku bersandar dan menangis. Ternyata aku masih menyimpan rasa sayangku pada beliau. Namun aku tak mau merusak hubungan yang telah berjalan baik antara guru dan muridnya.

IV.      BERKENALAN LEBIH DEKAT

“Karena kalian sudah berusaha sebaik mungkin, kalian boleh istirahat dan kembali ke tempat awal kita berkumpul. Dan ingat, waktu istirahat kalian hanya 90 menit. Gunakan waktu istirahat yang diberikan sebaik-baiknya! Setelah itu kalian harus kembali ke tempat ini lagi! Mengerti?”, ujar SENPAI Ikbal pada kami, para pemegang sabuk hijau. “OSU (Ya), Mengerti SENPAI.”, jawab kami serempak. Para pemegang sabuk hijau pun segera berlari menuju tempat yang telah tentukan. Kami berlari seperti sekelompok semut yang keluar dari sarangnya akibat runtuhnya sarang.

“Dwiki, ‘kambing’ (panggilanku pada sahabat Dwiki), tunggu dulu donk! Mas Murdhani kan capai. Tega banget neh kalian.”, teriakku pada Dwiki dan sahabatnya. Mereka berhenti. Namun, aku melihat sesuatu yang aneh pada wajah Dwiki. Raut wajahnya terlihat kesal. “Kamu kenapa, Ki? Wajahnya kok ditekuk gitu. Jelek tau. Lagi pula gak takut patah apa, wajah kok ditekuk terus?”, tanyaku sambil bergurau pada Dwiki saat aku berhasil menyusulnya. “Tau ah. Mas Murdhani jahat. Masa Dwiki dipanggil kambing.”, rajuknya. “Bukan Dwiki yang kambing. Tapi temen kamu tuh. Tadi bukan Dwiki kambing. Tapi, Dwiki koma kambing, Gitu. Ah Dwiki gak asyik neh. Dikit-dikit ngambek. Lupa sama janjinya yah?”, terangku padanya. “Eh, mas tuh yang kambing” ujar sahabat Dwiki. “Owh! Gitu toh. Hehe. Maaf ya, Mas. Tadi Dwiki salah paham. Tapi Mas Murdhani jangan pikir Dwiki lupa. Dwiki inget kok. Tadi Cuma pengen ngetes mas aja. Hehe. Weeeekk.”, ujarnya sambil berlari dan menjulurkan lidahnya ke arahku. Uh, sial. Aku ditipu mentah-mentah sama anak kecil. Aku pun berteriak,“Eh, Awas ya Dwiki. Ntar kalau udah ketangkep, Mas murdhani bakalan….”. “Bakalan apa hayo?”, teriaknya dari kejauhan. “Bakalan Mas Murdhani makan. Biar Kenyang. Gak usah beli nasi lagi. Tapi, kalau Dwiki mas makan, gak ada yang bayarin mas lagi donk. Hehe.”, jawabku. Tiba-tiba dia berhenti dan segera menghampiriku. “Lho, kok balik. Mau Mas Murdhani makan tah?”, candaku saat dia berhenti di depanku. Tiba-tiba dia menarik bajuku. Alhasil aku harus menunduk agar aku tak jatuh dan bajuku tak robek. Tak kusangka dan tak kuduga sebelumnya, Dwiki mencium pipiku di depan teman-temannya. Mungkin wajahku seperti udang rebus pada saat itu. “Dwiki sayang Mas Murdhani. Mas mau kan jadi mas-nya Dwiki?”, tanyanya. Ammh, uhh, hmm. Hanya itu yang keluar dari mulutku saat itu. “Mas! Ditanyain malah bengong. Tuh Dwiki udah nungguin jawabannya.”, ujar sahabatnya. “Emang harus sekarang ya?”, tanyaku bodoh. “enggak mas. Tahun depan aja. Emangnya kapan lagi? Kaya orang ditembak cewek aja sampe bingung gitu.”, ujar si ‘kambing’ dengan nada kesal. “Emhh. Gimana ya, Ki? Mas Murdhani sih mau. Tapi Mas Murdhani ndak yakin. Takutnya nanti Dwiki berubah pikiran di tengah jalan.”, jawabku. “Mas Murdhani kurang yakin sama Dwiki? Mas! Dwiki tuh sayang banget sama mas. Sejak aku melihat mas di ujian kemarin.”, terangnya. “Apa buktinya kalau Dwiki memang bener-bener sayang Mas Murdhani?”, tanyaku. “Mas Murdhani pengen bukti?”, dia balik bertanya. Kuanggukkan kepalanya tanda meng-iyakan. Tiba-tiba dia mencium bibirku sekilas. Aku kaget bukan main. Dia nekat, pikirku. Akhirnya kuterima permintaan kekerabatannya. Ceeiileeeehhh. Kaya di Facebook aja.

V.   GETTING CLOSER

Waktu istirahat yang seharusnya kugunakan untuk makan bersama (gratis) dengan teman serantingku malah kugunakan makan bersama (bayar) bersama Dwiki dan sahabatnya. Untungnya aku sudah meminta izin pada ketua rantingku. Agar mereka tidak bingung mencariku.
“Ki, kenapa sih Dwiki pengen Mas Murdhani jadi kakaknya Dwiki? Apa Dwiki dak punya kakak?”, tanyaku. “Dwiki sih sudah punya kakak cewek. Pengen punya kakak cowok. Kakak Dwiki tuh orangnya kasar dan pemarah. Kalau Mas Murdhani kan enggak. Hehe.”, jawabnya. Hmmm, dia belum tahu siapa aku sebenarnya, ujarku dalam hati. Lalu kami melanjutkan makan tanpa berbicara sepatah katapun.

“Eh, Ki. Orang tua Dwiki kemana? Kok ndak kelihatan dari tadi?”, tanyaku padanya saat kami duduk berdua di pantai. “Sudah pulang. Nanti jam 12.15 sudah kesini lagi kok.”, jawabnya. “Ki, berenang yuk! Mau gak?”, tanyaku. “Ayo mas. Mumpung masih ada waktu istirahat satu jam.”, ujarnya sambil menarik tanganku. “Eit. Tunggu dulu Ki. Nggak mau ganti baju dulu tah? Ntar kalau latihan lagi pake baju basah dimarahhin gimana? Ganti baju dulu yuk!”, ajakku. “O iya mas. Aku sampai lupa. Hehe. Makasih sudah ngingetin ya mas. Yuk ganti baju dulu.”, ujarnya. Kamipun mengganti pakaian kami.

“Ki, kita ke tengah yuk!”, ajakku. “Ah, nggak ah mas. Aku takut. Disana kan dalem. Ntar kalau Dwiki tenggelam gimana?”, ujarnya. “Kan ada Mas Murdhani.”, rayuku. “Yaudah deh. Tapi ntar jagain Dwiki ya, mas!”, pintanya. Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Akhrnya kami sampai di tempat yang lumayan dalam. Tinggi airnya sebatas bahu Dwiki. Kami mulai berenang berkejaran. Saat aku mengejarnya, Dwiki menyiramkan air yang lumayan banyak. Alhasil, mataku perih dan hidungku kemasukan air. Aku berhenti mengejarnya dan mengucek mataku yang perih. Melihat itu, Dwiki panik dan segera menghampiriku. “Mas. Mas gak apa apa kan?”, tanyanya. Ide usilku muai muncul. Aku berpura-pura pingsan. Aku berusaha menenggelamkan diri. Dwiki langsung berusaha menahan badanku yang jauh lebih besar dari badannya. “Dhuar.”, teriakku. Dia kaget bukan main. Tiba-tiba dia memukul perutku. “Eh, kenapa mukul, Ki?”, tanyaku keheranan. “Habis, Mas Murdhani ngerjain Dwiki.”, jawabnya. “Hehe, becanda Ki.”, belaku. Tiba-tiba dia pergi. Kulihat ada sebuah perahu yang ditambatkan, talinya mengendur, yang menyebabkan perahu itu agak terbawa ombak sekitar dua meter. Dan mundurnya mengarah ke arah Dwiki. Langsung aku berenang secepatnya untuk mangejarnya. Saat aku sampai, ternyata perahu itu hampir membentur badannya. Dia tak melihatnya karena dia selalu menunduk. Kutarik badannya. Namun, kayu penyeimbang kapal itu mengenai tanganku. Tanganku lecet dan terasa perih karena terendam air laut. “Mas, mas gak apa-apa kan?”, tanyanya. “Ya. Gak apa-apa kok. Cuma lecet aja. Makanya, kalau jalan lihat ke depan.”, nasihatku dengan lemah lembut. “Ya mas. Maafin Dwiki ya. Mas jadi lecet gara-gara Dwiki.”, sesalnya. “Ya udah. Kepinggir yuk.”, ajakku. “Tunggu dulu mas! Dwiki mau tanya sesuatu.”, ujarnya. “Dwiki mau tanya apa?”, tanyaku sambil membelai rambutnya. “Mas Murdhani sayang gak sama Dwiki?”, tanyanya. “Ya Mas Murdhani sayang lah. Masa Mas Murdhani gak mau sayang sama Dwiki. Dwiki kan adiknya Mas Murdhani sekarang.”, jawabku sambil menowel pipinya. Tiba-tiba Dwiki memelukku. Walaupun kaget, kucoba untuk bersikap wajar. Kubalas pelukannya dengan erat. “Ya udah dunk mas. Dwiki gak bisa nafas nih. Seret banget pelukannya. Kaya yang gak mau kehilangan Dwiki aja”, tegurnya.

Memang aku gak mau kehilangan kamu, ujarku dalam hati. Kulonggarkan pelukanku padanya. “EHEM”, sebuah suara berdehem yang cukup mengagetkanku. Akupun menoleh ke belakang tanpa melepaskan pelukanku. “Kalau mau mesra-mesraan jangan disini dunk.”, tegur SENPAI Ikbal. “Idih. Siapa juga yang mesra-mesraan?”, kilahku. “Itu. Dari tadi ngapain kamu meluk dia?” tanya beliau. “Gak ngapa-ngapain kok. Jangan suudzan dulu dunk!”, kilahku seraya melepaskan pelukanku. “Oh, jadi kamu nggak ngerasa kalau kejadian tadi tuh mirip sama kejadian delapan tahun lalu? Kejadian antara kamu dan kembaran kamu, si Dhana?”, tanyan beliau. Pikiranku melayang mundur ke delapan tahun yang lalu. Saat dimana aku menyelamatkan Dhana yang sangat ceroboh dari tabrakan sepeda motor yang akan menabrakya dengan kecepatan tinggi. Dan penyelamatan itu mengakibatkan tanganku lecet karena terserempet dan terjatuh mengenai aspal. Dan saat berada di dalam kamar, Dhana bertanya apakah aku menyayanginya. Persis seperti kejadian yang baru kualami. Oh iya. Aku pernah menceritakan kejadian itu pada beliau. Dan mungkin sudah dari tadi beliau di sini dan melihat semua kejadian ini. Tak tersa aku mulai menitikkan air mata. “Woi, ditanya jawab dunk!”, teriak SENPAI Ikbal. “Maaf, PAI. Aku tak ingin membicarakannya saat ini.”, ujarku. Tiba-tiba beliau menepuk pundakku dan menyuruhku agar aku menjadi laki-laki yang tegar, tidak terhantui masa lalu, dan agar aku menjaga Dwiki sebaik-baiknya. Satu lagi alasan yang menyebabkan aku tetap ingin menyayanginya sebagai sahabat dan guruku. Sifat bijaksananya. Aku sungguh bangga akan itu. “Ya udah. Ayo balik. Sebentar lagi latihannya mulai lagi lho.”, ajak beliau. Akupun mulai berjalan mengikutinya sambil menarik tangan Dwiki.
“Mas, Dhana itu siapa? Trus, sekarang dia dimana? Kejadian apa yang dimaksud sama SENPAI Ikbal?”, tanya Dwiki saat kita berganti pakaian di toilet. Ku cium pipinya dengan lembut. Kemudian aku menceritakan tentang siapa Dhana. Dimana dia sekarang. Namun aku hanya menceritakan yang pantas didengarnya saat dia bertanya apa hubunganku dengan Dhana hingga membuat aku meneteskan air mata dan tidak mau mengingatnya lagi.

“Ayo cepetan, mas. Ntar kita ketinggalan yang lain lho.”, ajak Dwiki padaku. “Iya iya. Sabar sedikit kenapa. Mas Murdhani kan masih pakai sabuk.”, ujarku. “Sambil jalan kan bisa.”, ujarnya. Aku pun berjalan sambil memasang sabukku. Tak terasa kami sudah sampai di tempat latihan pertama. Sesampai di sana kami langsung berbaris. Dwiki berbaris tepat disebelahku. Saat semua telah berkumpul, kami disuruh pindah tempat ke rah timur kira-kira 100 meter. Di sana kami merasa lebih nyaman. Selain karena ada pohon kelapa yang menaungi, di situ tidak beralaskan pasir panas melainkan tanah berumput yang sejuk. Para pelatih tiap kelompok pun di tukar. Yang melatih kami saat itu adalah SENPAI Eva. Beliau adalah SENPAI termuda di sini. Masih bersekolah Beliau masih kelas XI pada saat itu. Dan beliau mampu menguasai KATA dan KUMITE dengan baik. Saat latihan kedua ini, kami semua di ajari bagaimana menjadi pemain KATA yang baik dan benar. Awalnya, kami diajari trik bermain KATA. Kemudian kami disuruh mempraktekkannya.

Kamipun mulai mempraktekannya. Mulai dari KATA pertama sampai yang keempat. Namun pada KATA ketiga terjadi kendala. Beberapa di antara kami tidak hafal. Itu menyebabkan SENPAI Eva mulai marah. “HEH, KALAU GAK HAFAL PAKE SABUK PUTIH AJA. UDAH SABUK IJO NGGAK HAFAL KATA TIGA. YANG NGGAK HAFAL SIAPA? NGACUNG!”, teriak beliau. Sekitar 30 persen dari kami mengacungkan jarinya. Dan mereka yang tidak hafal diletakkan di barisan paling depan. Merekapun dipaksa menghafalkan KATA ketiga tanpa bantuan pemegang sabuk hijau yang lain dalam 15 menit. Dan SENPAI Eva memperbolehkan yang lain beristirahat sejenak. Untunglah mereka cepat hafal. Sehingga tidak membuat SENPAI Eva makin marah. Akhirnya kami melanjutkan latihan sampai selesai tanpa ada masalah. Karena kami selesai lebih cepat, masih tersisa waktu sekitar 45 menit untuk latihan. SENPAI Eva menawarkan kami untuk belajar KATA kelima. Kamipun menerima tawaran itu. Kapan lagi belajar KATA selain di sini dan di ranting. Walaupun akan dipelajari di ranting, itupun akan dipelajari saat kami telah memakai sabuk biru. Kamipun belajar dengan sungguh-sungguh. Namun sifatt celometanku kumat lagi. “Celometan terus. Untung gerakan kamu bagus. Kalau nggak, udah saya makan kamu.”, tegur SENPAI Eva. Dan akupun meminta maaf kepada beliau. Malu sih. Tapi seneng juga. Soalnya tadi ditegur plus dipuji.

“Karena latihan sudah selesai, kalian kembali ke tempat awal untuk upacara penutup. Mengerti?”, ujar SENPAI Eva. “OSU. Mengerti.”, jawab kami serempak. Kemudian kugandeng tangan Dwiki dan mengajaknya untuk segera kembali ke tempat awal. Diperjalanan kembali, kami bertemu si ‘kambing’. “Idih. Mesra banget jalannya, sambil gandeng-gandengan gitu.”, ejeknya. “Iri ya? Kamu kan gak punya kakak.”, balas Dwiki sambil meng-eratkan pelukannya pada tanganku. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka yang konyol.

Akhirnya kamipun sampai di tempat awal. Kamipun berbaris mengikuti perintah para SENPAI. Setelah barisan kami rapi, para SENPAI menyuruh kami yang berada di pantai untuk mundur sampai badan kami tertutu air sebatas pusar. Kemudian upacara dimulai. Kami mengikutinya dengan khidmad. Setelah selesai para SENPAI dan SENSEI berjalan menuju arah kami. Dan kamipun disiram air laut. Otomatis kami berlari menjauhi mereka menuju ke laut. Dan kami semua bermain disitu. Mereka juga berkata jika ada yang ingin pulang, diperbolehkan karena GASHUKU sudah selesai. Hanya beberapa dari kami yang langsung pulang. Mungkin mereka takut kemalaman karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Sisanya tetap bermain air bersama para SENPAI dan SENSEI. Kami bermain seperti sahabat. Bukan seperti murid dan gurunya. Saat matahari sudah mulai turun, kami semua berganti pakaian dan bergegas pulang. Sebelum aku pulang, aku mencari Dwiki. Namun aku tak menemukannya. Namun aku bertenu si ‘kambing’ dan aku menanyakan apaka dia melihat Dwiki. “Dwiki sudah pulang, mas. Tadi dijemput orang tuanya. Nih, dari Dwiki buat mas. Jangan dihilangin, katanya.”, ujar si ‘kambing’ seraya memberikan sebuah kalung rantai yang berliontinkan love. Dan ketika kubuka liontin itu, terdapat ukiran huruf inisial nama kami berdua. M dan D. Akupun mengucapkan terima kasih padanya. Aku mau jad kakaknya tapi nggak tau umur, rumah, dan sekolahnya. Dasar bodoh, pikirku. Akupun pulang dengan perasaan gembira.

VI. PERTEMUAN KEMBALI YANG TAK TERDUGA

Hari ini tanggal 16 Oktober 2010. Enam bulan sejak pertemuan terakhirku dengan Dwiki. Sekarang aku sudah menduduki kelas XI IPA 7. Hari sabtu pagi yang mengesalkan. Guru killer, mapel susah, pulang siang lagi. Huft, untunglah saat jam ke 3, guru mapel Bahasa Indonesiaku yang aneh nggak datang. Karena aku malas untuk bermain, kuputuskan untuk pergi ke kantin dan ber-sms ria dengan temanku di seluruh pelosok negeriku tercinta. Tiba-tiba, kuteringat seseorang. Tak kusadari, ternyata aku melamun. Melamunkan seseorang yang kurindukan. Dwiki, di mana sekarang kamu? Mas Murdhani kangen sema Dwiki, lamunku. Saat aku sedang asyik melamun dan mengingat pengalaman indah bersama Dwiki, tiba-tiba. “Woi, jangan ngelamun terus. Ntar kesambet tau rasa loe. Ngelamun kaya orang gila. Senyum-senyum sendiri. Ada apa nih? Apa temanku yang satu ini lagi kasmaran ya?”,teriak Bani sambil menggodaku. Bani  Adam. Sahabat sekaligus rivalku sejak aku masih di sekolah dasar. Tubuhnya tinggi besar dan otaknya sangat encer. Tak heran kami sering bertemu di aneka macam lomba. Mulai dari siswa teladan, olympiade, dan karya ilmiah. “Aduh Bani. Ngagetin aja kerjaannya. Lagi asyik-asyiknya nih. Malah dipotong. Gak asyik lagi deh.”, sungutku. “Eh, bentar. Kamu lagi jatuh cinta ya? F I L gitu?”, tanyanya. “F I L? Apa tuh?”, tanyaku keheranan. “Ya. F I L. Falling In Love. Sama siapa, Mur?”, tanyanya lagi. “Hehe. Kamu tau aja, Ban. Iya nih. Aku lagi kasmaran. Tapi, Ban. Eemmmh. Kamu jangan cerita sama siapa-siapa ya! Soalnya aku malu.”, pintaku. “Kenapa harus malu?”, tanyanya lagi. “Sini aku bisikin!”, ujarku. Akupun mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada seorang anak yang masih bersekolah di sekolah dasar. Karena dia tahu aku ‘sakit’, maka akupun tak malu menceritakan bahwa anak itu laki-laki. Tiba-tiba Bani tertawa keras. “Apa, Mur? SD? Nggak salah tuh kamu. Sukanya brondong gitu.”, ujarnya sambil menahan tawa. “Biarin. Dia kan brownies. Browndong muanies. Gak kaya kamu pahit.”, elakku. Haha, kami pun tertawa lepas.

Ngomong-ngomong tentang SD, Aku sudah lama tak berkunjung. Biasanya seminggu sekali aku pasti ke sana. Kini sudah 10 bulan sejak terakhir kali aku berkunjung. Kira-kira kapan ya aku bisa berkunjung lagi. Waktu pulang di sekolahku lebih lama dibandingkan dengan di SD-ku.  Tak terasa sudah waktunya istirahat. Namun saat bunyi bel istirahat, aku merasakan sesuatu yang aneh. Belnya terlalu panjang. Kemudian ada pengumuman kalau para siswa dipulangkan lebih awal karena ada rapat. Hore. Akhirnya aku bisa berkunjung ke SD-ku lagi, pikirku. Aku pun bergegas untuk pulang dan berkunjung ke Sekolahku dulu. Kurasakan rindu yang membuncah semakin meluap. Dan akupun yakin akan segera terobati saat aku tiba di sekolah dasarku.

“Assalamualaikum.”, ucapku saat memasuki ruang guru sekolah dasarku. “Waalaikumsalam warahmatullah.”, jawab guruku serempak. Akupun segera bersalaman dengan semua guru disana. “Mat, kok lama gak kesini?”, tanya  Bu Ida, my english teacher. “Udah lupa ya sama SD-nya?”, goda guruku yang lain. “Boh, ndak bu. Cuma lagi sibuk aja.”, jawabku. “Iya. Sibuk pacaran.”, goda Pak Badri, arabiah ustadz. “Sapa cewekna lun? (siapa ceweknya dulu?)”, goda Bu Oda, guru Bahasa Maduraku. Aku hanya garuk-garuk kepala. Ternyata semuanya tidak berubah. Selalu ramah. “Ndak bu. Saya sudah lama jomblo. Lagi males pacaran. Hehehe.”, kilahku. “Tadek se e katerroe apa Mur? Se einceng wa? (nggak ada yang di sukai apa Mur? Yang di incar gitu?)”, goda Bu Oda lagi. “Nggak lah bu. Lagi males mau pacaran neh.”, kilahku lagi. “Oh iya, bu. Guru yang lainnya mana? Kok ndak kelihatan?”, tanyaku. “Lagi ngajar. Samperin gih!”, ujar Bu Ida kepadaku. “Oh. Thank you so much maam.”, ucapku pada beliau. “You’re welcome, son.”, balasnya. Akupun mulai singgah dari kelas lantai bawah ke lantai atas untuk bertemu para guru yang telah memberiku ilmu selama enam tahun. Tepat di kelas terakhir, kelas terpojok lantai atas, aku masuk menunggu ulangan harian kelas itu berakhir. “Kelas 4a.”, kubaca tulisan di atas pintu kelas tersebut. Akupun menunggu di serambi kelas itu. Aku dan teman seangkatanku adalah murid pertama yang menggunakan kelas itu. Namun dulu kelas yang ada di tingkat atas hanya kelas pojok itu. Aku kembali mengingat kisahku di sekolah ini. Mempunyai teman yang baik, rupawan, dan pandai. Aku kembali teringat Almarhum Bustanul Arifin, teman, shabat, bahkan saudara terbaik yang aku pernah miliki. Selain baik, rupawan, dan pandai melukis, dia juga sangatlah alim. Layaknya seorang kyai cilik. Sayang dia harus meninggal di usia yang masih tergolong muda. Terngiang kembali nasihatnya padaku. Jangan lupa shalat dan hormatilah orang tuamu. Kembali aku meneteskan air mata.

Terlintas kenangan bersamanya. Saat bermain, shalat bersama, belajar, bersaing, dan yang membuatku sesak adalah kenangan saat dia memelukku dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku menyabet piala gubernur di acara olympiade matematika dulu. Tiba-tiba ada yang menjulurkan tissue padaku. “Sudahlah, jangan menangisi orang yang
sudah wafat. Kasihan arwahnya pasti sedih melihat kamu seperti ini. Nih, seka air mata sama ingus kamu!”, ujar Bu Nia. Guruku yang satu ini sangatlah perhatian kepada muridnya. “Ayik (panggilan akrab Arif) sudah tenang di sana. Jangan kamu buat dia menjadi sedih!”, nasihat beliau. Beliau tidak pernah berubah. Selalu tahu apa yang kupikirkan. “Sudah dulu ya. Bu Nia mau ngajar di kelas bawah dulu. Jangan cengeng. Kamu cowok. Oke?”, ucap beliau memberi semangat kepadaku. “Rebes bu.”, jawabku dengan semangat 45.

Akupun berjalan ke pojok serambi yang menghadap ke jalan raya. Aku termenung melihat banyak perubahan sejak aku meninggalkan sekolah ini untuk mengejar ilmu di jenjang yang lebih tinggi. Tiba-tiba kurasakan sepasang tangan mungil memeluk pinggangku dari belakang. Terlintas bayangan wajah Dwiki di pikiranku. Namun ku tepis bayangan itu karena tak mungkin Dwiki bersekolah disini. Lagi pula dari kelas satu sampai tiga tidak kulihat Dwiki di sana. Namun pelukan ini mirip dengan pelukan yang pertama kali aku rasakan dari dia. Apakah mungkin ini benar benar Dwiki?, pikirku. Akupun menoleh dan kulihat sesosok anak kecil yang memelukku sambil menundukkan wajahnya. Seolah-olah ingin berkata, hayo tebak, siapa aku. Aku pun makin penasaran dengan wajah anak ini. Saat aku telah benar benar memalikkan badan, kulihat dia meraih tanganku dan meletakkan tanganku di pipinya dan akhirnya aku dapat melihat dengan jelas siapa anak kecil itu. Walau aku tak percaya dan sedikit terkejut mengetahuinya. Dia Dwiki. Seorang anak kecil yang aku sukai. Spontan akupun memeluknya dengan erat. Karena aku tersiksa. Tersiksa karena rinduku padanya baru tersalurkan setelah enam bulan menunggu. Tiba tiba aku mendengar isakan tangis. Setelah kulirik, ternyata Dwiki menangis. “Dwiki kenapa nangis lagi? Kan udah janji sama Mas Murdhani nggak mau nangis lagi?”, tanyaku padanya. “Dwiki nangis gara gara Mas Murdhani tau. Mas Murdhani jahat.”, jawabnya. “Lho kok gara gara Mas Murdhani? Memangnya Mas Murdhani punya salah apa sama Dwiki?”, tanyaku keheranan. “Mas Murdhani udah jarang kesini lagi. Padahal setiap hari Dwiki pulang belakangan cuma buat nunggu Mas Murdhani. Tapi Mas Murdhani gak pernah kesini lagi. Dwiki kangen sama Mas Murdhani tau.”, terangnya. Kuhapus air matanya saat itu juga dengan tissu yang tadi kupakai untuk menghapus air mataku.

Setelah dia berhenti menangis, aku mulai menjelaskan mengapa sudah 10 bulan aku tidak kesini lagi. Semua karena tugas sekolah yang terlalu banyak dan waktu pulangku yang lebih siang. Akupun bercerita bahwa baru kali ini aku tahu bahwa dia bersekolah disini. Untungnya dia mau mengerti. “Mas, masih nyimpen kalung yang Dwiki kasih gak?”, tanyanya. “Masih kok. Malah setiap hari Mas Murdhani bawa. Nih!”, ujarku sambil mengeluarkan kalung yang berliontin perak dari balik pakaianku. Dia terlihat senang sekali. Diapun mengajak aku duduk berselonjor di sana. Dia duduk dia atas pahaku. Dia mengeluarkan kalung yang sama dari balik pakaiannya. “Hehe. Ternyata kita sehati ya, Ki?”, godaku. Dia hanya tersenyum simpul kepadaku. Kemudian kutanyakan kelasnya dimana. Karena dari tadi aku tak melihatnya di kelas yang aku kunjungi. Ternyata di kelas 4a. Kelas yang tadi belum sempat aku masuki karena sedang ulangan harian. Ternyata tebakanku sewaktu awal bertemu dengannya salah total. Ternyata saat awal bertemu, dia sudah berumur 9 tahun dan duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ternyata dia memiliki wajah yang kata orang baby face. “Ehem. Jangan pacaran terus, mas! Sama anak kecil lagi.”, tegur seorang anak kecil yang kini ku ketahui adalah teman sekelas Dwiki. “Apaan sih kamu? Aku sama Mas Murdhani gak pacaran kok. Tanya aja sama Mas Murdhani!”, kilah Dwiki. Aku hanya garuk garuk kepala mendengar obrolan anak kecil ini. Sebenarnya aku sangat senang diolok olok sebagai pacar Dwiki. Karena menjadi pacar Dwiki adalah keinginan terbesarku. “Mas Murdhani pacaran kan sama Dwiki?”, tanya anak itu lagi. “Nggak lah dek.”, jawabku. “Tapi kenapa tadi peluk-pelukan gitu? Trus sama sama nangis. Punya kalung yang sama lagi.”, tanyanya tanpa bernafas. “Dwiki tu adeknya Mas Murdhani. Sudah hampir satu tahun ndak ketemu.”, jawabku dengan sabar. “ohhh. Gitu toh. Yaudah yuk.”, ujarnya sambil mengajak teman temannya pergi ke kantin. “Eh, mas. Mulai sekarang Mas Murdhani harus ke sini setiap pulang sekolah!”, pinta Dwiki. “Ya. Tapi kalau Mas Murdhani gak bisa gimana?”, tanyaku. “Ya Mas Murdhani SMS Dwiki aja. Sini HPnya, biar tak simpankan nomer HPnya Dwiki.”, ujarnya. Akupun memberikan HPku padanya. Dan dia menyimpan nomer HPnya di HPku. Kemudian bel masuk berbunyi. Diapun segera kembali ke kelasnya.

Dua rasa rinduku terobati sudah. Aku menunggu waktu shalat dhuhur sambil membeli makanan di warung langgananku saat aku masih bersekolah di sini. Dan penjualnyapun masih tetap mengingatku. Beliau terlihat mulai beruban. Namun masih terpancar aura kesabaran yang sangat terang dari wajahnya. Tepat setelah selesai meyantap makananku terdengar suara adzan dari masjid yang berada di lingkungan sekolahku. Para siswa-siswi SD-ku mulai keluar kelas untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah. Akupun segera menyusul setelah membayar makananku. Akupun segera berwudlu di tempat para siswa berwudlu. Tempat ini juga sudah berubah. Di tempat ini jugalah aku memiliki kenangan bersama Almarhum Arif. Dulu, aku selalu mengerjainya. Kuambil kopiahnya dan kuletakkan di tempat yang tinggi karena dia bertubuh pendek. Dan setelah itu dia pasti akan meminta aku mengambilkannya dengan lemah lembut tanpa ada sedikitpun amarah. Kalau sudah begitu aku pasti akan mengembalikannya karena aku tak tega. Setelah selesai berwudlu akupun segera menuju tempat dimana dulu aku selalu shalat dhuha dan dhuhur berjamaah. Entah karena keberuntungan atau apa, kelas 4 selalu shalat di tempat yang sama. Akhirnya aku duduk di sebelah Dwiki. Dan kamipun menunaikan rukun Islam yang ke dua. Yaitu melaksanakan shalat. Setelah selesai berdzikir, aku segera turun dari masjid dan kuputuskan untuk pulang walaupun SD-ku masih belum pulang. Namun, saat aku akan menghidupkan sepeda motorku, tangan Dwiki mencegahku untuk menghidupkannya. “Jangan pulang dulu, mas. Tungguin Dwiki sampai pulang ya!”, pintanya. Ku hembuskan udara dari paru-paruku dengan sedikit mendengus. Namun aku tak kuasa menolak permintaannya. Akupun menganggukkan kepalaku. Kami berdua segera menuju kelasnya untuk mengambil uang saku Dwiki yang diletakkan di dalam tasnya. Kami pun mulai bercerita tentang orang yang pernah kami sukai sambil membeli makanan ringan di koperasi SD-ku. Aku dan dia menceritakan semua orang yang aku dan dia sukai. Namun tentu saja aku tak menceritakan tentang aku yang menyukainya. Lama kami bercerita hingga bel masukpun berbunyi. Akhirnya dia masuk kelas dan aku hanya duduk menunggu hingga dia pulang. 40 menit kemudian semua siswa keluar kelas karena bel pulang telah berbunyi. Dwiki langsung menghampiri aku yang menunggunya. “Hehe. Lama nunggunya ya mas?”, tanyanya. “Gak kok. Cuma kaki mas udah berakar.”, ujarku. “Kamu mau langsung pulang atau gimana?”, tanyaku. “Aku boleh minta anter gak, mas? Soalnya ayahku lagi di kantornya.”, tanyanya. “Boleh. Tapi ada syaratnya.”, ujarku. “Apa, mas?”, tanyanya lagi. “Minta nomer HP kamu sama kamu harus cium pipi Mas Murdhani. Gimana, masih mau?”, ujarku. “Iya dah. Catet nih nomer HP Dwiki!”, ujarnya samil menyodorkan HPnya. Kucatat nomer Hpnya di Hpku. “Trus. Syarat yang kedua gimana?”, tanyaku. “Dwiki janji Hari Selasa ya, mas.”, ujarnya.akupun menyetujuinya. Akhirnya ku antarkan dia ke kantor ayahnya.

VII FIRST KISS

Ku tepati janjiku pada Dwiki untuk selalu menemaninya menunggu ayahnya sepulang sekolah di SD-ku. Kegiatan itu kulakukan setiap hari masuk sekolah kecuali Hari Jum’at, karena pada hari itu aku harus segera pulang untuk melaksanakan shalat jum’at. Aku selalu lupa menagih janjinya untuk mencium pipiku saat bertemu dengannya karena terlalu asyik mengobrol. Aku selalu ingat setelah sampai di rumah. Ku coba menyetel alarm pengingat pada HPku agar besok tak lupa.

Hari itu Hari Sabtu yang cerah. “Ki, mau kemana?”, tanyaku saat dia berdiri dari tempat duduk kami. “Mau ke kelas dulu. Ada yang ketinggalan.”, terangnya. “Ya udah. Bareng aja yuk.”, ajakku. “Oke. Makasih udah mau nemenin Dwiki ya mas.”, ujarnya. Saat sampai di kelasnya dia mengambil buku tulisnya yang tertinggal di kolong mejanya. Ku dekati dia. Kemudian aku berusaha menyamakan tinggi tubuhku dengannya. Aku berdiri menggunakan lutut. Dia masih belum menyadari aku berada tepat di belakangnya. Kuperhatikan tubuhnya. Ternyata dia sangat mirip dengan almarhum Dhana, kembaranku. Tanpa sadar kupeluk tubuhnya dari belakang. Kurasakan dia terkejut. Namun dia membiarkan aku memeluknya dari belakang. “Dhan, apa kamu benar-benar ada di dalam tubuhnya?”, ujarku lirih. Kemudian kurasakan tangannya memegang tanganku dengan lembut. “Sudahlah mas. Jangan ingat kembaran Mas Murdhani lagi. Kan sekarang sudah ada Dwiki.”, ujarnya. Ada yang gak bisa kamu berikan seperti apa yang dia pernah beri kepadaku, ujarku dalam hati. “Kenapa? Kayanya mas masih ragu sama Dwiki.”, ujarnya sambil membalikkan badannya. Alhasil kami berpelukan berhadapan. Tiba-tiba dia mencium pipiku. Aku yang terkejut, reflek menarik tanganku mengelus bekas ciumannya. Kurasakan wajahku memerah dan memanas. Akupun tertunduk malu.

Tiba-tiba tangan kirinya bergelayut di leherku dan tangan kanannya diletakkan di dadaku. Kutatap matanya yang sayu. Tanganku kuletakkan di lehernya dan di punggungnya. Tanpa disadari, kami berdua saling menarik badan yang satu dan yang lainnya. Dia mulai sedikit memiringkan. Aku pun demikian. Kulihat dia memejamkan matanya. Kemudian akupun melakukan hal yang sama. Kurasakan lembutnya bibirnya menyentuh bibirku. Awalnya hanya ciuman tanpa ada ‘bumbu’, alias saling menempelkan bibir saja. Kumabil inisiatif untuk memberi ‘bumbu’ pada first kiss ini. Kutarik kepalaku menjauhinya. Kemudian kudekatkan lagi sambil sedikit membuka mulutku. Diapun menirukan apa yang aku lakukan. Kami berciuman dengan ‘bumbu’ pertama sekitar 30 detik. Kemudian aku ingin menambah ‘bumbu’nya. Aku mulai menghisap bibirnya yang mungil dan lembut itu. Dia agak mendesah seperti menikmati ciumanku. Merasa diberi jalan. Akupun mulai menggigit kecil bibirnya. Dia semakin mendesah. Namun tertahan. Aku baru ingat kalau pintu belum ditutup. Kutarik badanku menjauhinya. Kulihat ada ekspresi kecewa di wajahnya. “Tunggu. Mas mau nutup pintu dulu. Dwiki mau kita ketahuan seperti tadi? Nggak kan?”, ujarku. Kemudian kututup pintu kelas itu dan ku kunci pintu itu. Aku berbalik menuju ke arahnya. Namun aku melihatnya sudah berpindah tempat. Dia duduk bersender di bawah papan tulis yang bersih. Kemudian aku duduk berselonjor di sebelahnya. Aku ingin melanjutkan kejadian barusan. Namun aku malu untuk mengatakannya. Lagi pula posisi kami kurang pas untuk berciuman. Tiba-tiba dia berdiri dan duduk di atas pahaku. Kemudian dia menggeser badannya mendekatiku. Kurasakan kemaluannya menyentuh kemaluanku. Spontan darahku berdesir kencang. Kurasakan kemaluannya telah berdiri tegak. Kudorong pantatnya ke kemaluanku. Ku gesekkan kemaluanku ke kemaluannya. Dia kembali mendesah tertahan. Begitu pula aku. Aku melihatnya menggigit bibir bawahnya. Aku au dia sangat menikmatinya. Karena akupun merasakan hal yang sama. Kudekatkan bibirku ke bibirnya sambil terus menggesek kemaluan kami yang masih dibungkus celana. Kumulai dari awal lagi. Ku tutup rapat bibirku. Begitupun dia.

Kemudian kubuka perlahan. Dia mulai menirukan apa yang aku lakukan. Aku mulai menghisap dan menggigit kecil bibirnya. Terdengar desahan yang agak tertahan. Mendengarnya membuatku semakin bernafsu padanya. Ku ambil inisiatf untuk menambah bumbu keempat. Yaitu memasukkan lidah ke dalam mulutnya. Dia mencoba melakukannya juga. Alhasil lidah kami saling beradu. Itu membuatku semakin semangat memasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Terakhir, kurasakan dia mengulum lidahku. Aku kaget namun sanagt senang. Akupun berusaha mengimbanginya kukulum dan kuhisap bibir dan lidahnya itu. Kami melakukannya selama 1 jam penuh. Aku pun kaget mengapa aku bisa seperti itu. Sebenarnya aku ingin meakukan suatu hal yang lebih jauh. Namun aku sadar ini bukan tempat yang cocok. Ku akhiri first kiss ini dengan menciumnya lagi. “Dwiki udah pernah ciuman ya?”, tanyaku. “Nggak kok. Baru sama Mas Murdhani aja.”, jawabnya. “Tapi kok udah pinter? Belajar dari siapa?”, tanyaku lagi. “Ndak tau ya, mas. Insting mungkin. Kan Dwiki belajar dari Mas Murdani tadi. Hehehe.”, jawabnya. “Tapi yang terakhir kan Dwiki yang ngajarin Mas Murdhani.”, ujarku. “iya mas. Dwiki tahu kok maksud mas. Yang terakhir itu dwiki pernah lihat teman Dwiki gitu. Terus dia ngasih tau caranya. Terus Dwiki Cuma pengen ngelakuin itu sama Mas Murdhani. Soalnya Dwiki sayang sama Mas Murdhani”, ujarnya. Wih wih. Baru kelas 4 SD saja udah tau gitu. Dulu aku mah gak tahu apa-apa waktu seumuran dia, pikirku. “Ya udah Nan. Keluar yuk. Takut ayahmu datang. Trus bingung nyariin kamu.”, ajakku. “Ya udah yuk.” Katanya. Kamipun keluar sambil bersenda gurau. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami. Dan kamipun sering melakukannya saat aku menemaninya. Minimal seminggu sekali aku mengulangi kejadian itu. Dan Dwiki dengan senang hati melayaniku. Terkadang dia yang mengajakku. Namun aku masih tidak berani untuk melakukan hal yang lebih jauh. Walau nggak ada pernyataan yang real, tapi aku sudah menganggapnya adik sekaligus pacar. Seperti hubungan antara aku dan Dhana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar