Rabu, 22 Juli 2015

Pederastry dalam Kehidupan Lelaki


http://www.kompasiana.com/www.aple.com/pederastry-dalam-kehidupan-lelaki_550dd29d813311b62cbc5fb6
-
Pederastry Mungkin kata ini agak baru ditelinga para pembaca. Tapi praktek pederastry bukan lah hal yang baru dalam kehidupan kita khususnya dunia lelaki. Pederastry sering disalah artikan dengan pedophilia dan terkontaminasi oleh para pedophile. Walau sebenarnya secara lexicological dan characteristic pelakunya sangatlah berbeda. Bila ada kesamaan mungkin hanya dari segi age asymetry dari pelaku hubungan tsb. Dan tulisan ini bermaksud untuk menggamblangkan perbedaan antara praktek pedophilia dan praktek pederastry yang lebih normative bahkan dalam budaya Jawa sendiri. Pederastry melibatkan hubungan yang akrab antara seorang lelaki dewasa dengan lelaki yang masih bocah yang biasanya berusia sampai tujuh belas tahun dimana si lelaki dewasa menunjukkan rasa kasih nya pada si bujang dan si bocah menanggapi uluran kasih sayang lelaki dewasa tsb. Di masyarakat Yunani Kuna,  praktek pederastry ini adalah hal yang lumrah. Mulanya praktek pederastry hanya terdapat pada masyarakat lapisan atas untuk mengajarkan pada si bocah tentang keperkasaan (bravery) dan pengendalian emosi (restraint) dan juga membimbing si bujang untuk menghargai nilai nilai budaya nya.  Ini adalah bagian dari pendidikan. Lambat laun praktek pederastry merambat juga ke masyarakat umum. Dalam budaya Yunani Kuna terjadinya hubungan yang intim antara si pederast dan si bujang ini biasanya diketahui oleh orang tua si bujang. Malah biasanya si bapak dari bocah lah yang mencari pederast buat anaknya tanpa sepengetahuan si anak.

Tentu saja niat si bapa adalah untuk mencarikan role model yang paling baik buat anaknya. Beda pederast dan pedophile Walau kadang sangat sulit membedakan antara praktek pederastry dan praktek pedophilia, ada element element tertentu yang menjadi characteristic khusus dari pederast. Yang sangat characteristic dari para pederast adalah niat dari si lelaki dewasa untuk mempersiapkan si bujang ini untuk jadi lelaki yang sepenuhnya dan jadi anggota masyarakat yang baik dan juga untuk mempersiapkan si bujang untuk jadi prajurit prajurit yang benar benar "lanang". Di sisi lain, pederastry bukan hanya menampilkan segi segi sexualitas yang sangat  characteristic tapi juga normative ( diterima dalam budaya suatu masyarakat bahwasanya ada unsur homosexualitas dalam kehidupan lelaki) yang mana bisa dilihat dari sejarah kehidupan manusia dipelosok dunia. Praktek ini bisa dicermati dalam budaya Yunani, Japan, Roman, Medieval Islam, Jawa bahkan China Seorang pederast biasanya berhubungan dengan bocah puber yang masih dalam transisi dimana si bocah masih kelihatan seperti bocah tapi tubuhnya sudah berangsur menjadi bentuk lelaki dewasa  (v chest) tapi masih belum tumbuh rambut rambut yang menandai kelelakian seseorang. Bocah puber semacam ini biasanya juga begitu androgenic, lanang tapi juga effeminate dan sublime, jadi kelihatan bocah yang gagah secara badan tapi lembut secara kelakuan maupun dari segi penampilan. Dan seorang pederast biasanya tak lagi tertarik dengan bocah tsb bila dia sudah mulai menunjukkan kedewasaan dan tanda tanda kejantanan pria dewasa, kaki dan tangannya mulai berbulu umpamanya. Dari kacamata anthropology, pederastry adalah hubungan yang erotis diantara keduanya baik itu melibatkan erotisme yang tetap terjaga maupun erotisme yang berujung homoerotic activity. Selain itu  pederastry dipandang sebagai bagian dari coming of age passage untuk mempersiapkan si bujang pada kehidupan lelaki dewasa. Lain halnya dengan pedophile yang berhubungan dengan bocah lanang bawah umur karena untuk memenuhi nafsu miring sexualitas nya. Jadi tak ada unsur pendidikannya disitu dan si bocah biasanya adalah korban yang sebenarnya tidak mau berada dalam hubungan sex timpang usia tsb.

Pedophilia tentu saja adalah tindakan kriminal Ganymede, Gemblak, Bacha Bazi, Chigo = Catamite Dalam mythology Yunani Kuna, diceritakan tentang Zeus yang menjelma menjadi Elang dan menyambar Ganymede. Ganymede adalah pangeran muda dari Trojan dan parasnya sangat tampan dan berambut emas (blonde). Saking cakepnya Zeus pun terpesona dan membawanya ke kahyangan untuk hidup diantara para dewa. Ganymede jadi kekasih Zeus dan berperan sebagai cup bearer alias penuang nektar minuman para dewa. 13286901791389809936 Dalam kisah penculikan Ganymede yang sering dilukiskan dalam vase (wine jug), Ganymede biasanya digambarkan sebagai cowok cakep yang membawa hula-hoop dan cockerel (jago) ditangannya. Ganymede sebagai cup-bearer biasanya dia digambarkan sedang menuangkan nektar untuk Zeus. Ganymede sering dipuja sebagai dewa homosexual dan dia juga berperan sebagai play-mate dari Eros (si dewa cinta).

Bagaimana dengan di Indonesia?
Adakah praktek pederastry dalam budaya Indonesia? Tentu saja ada. Kita punya gemblak yang hakekatnya sama dengan Ganymede. Di padepokan ada cantrik. Semua itu mengandung unsur pederastry. Dengan gemblak, yang biasanya jadi ingon ingon nya warok, jelas sekali bahwa aslinya gemblak adalah pengganti perempuan karena warok tak boleh melakukan esek esek dengan perempuan karena bisa menghancurkan keampuhannya sebagai warok.  (Ah masaa! ) Dan kita di Jawa kebanyakan percaya saja, tanpa keberatan bahwa praktek semacam itu adalah sebenarnya homosexuality in practice. Mungkin waktu itu kata tersebut belum masuk dalam kosakata orang Jawa. Atau sebenarnya kita memang mentolerir praktek semacam itu. Memang begitulah adanya. Gemblak adalah culturally-sanctioned homoerotic activity. Tak perlu emphemism. We did it, allright! Dan seperti halnya para pederast, warok juga memilih gemblak dari segi penampilan physic nya. Lanang tapi lemah gemulai. Karena gemblak dalam perannya juga harus jadi penari, para penari jaranan dalam reyog. Konyol nya sekarang penari penari jaranan dalam reyog tersebut diperankan oleh remaja putri. (Oalaah diiik bok aja gelem nari kaya ngono. Wis jaran kepange dislempetke ing lapangan terus narine megal megol maju mundur, yo opoo rek. Wis jan pada ra donk tenan adik adik remaja putri kuwi. Ben si gemblak wae sing nari kaya ngo kuwi.

Cah wedok ki ya patute nari gambyong apa golek ngono lhoo) Budaya yang berkaitan dengan tarian dan praktek terselubung homoerotic activity juga terdapat di Afghanistan (Pashtun area). Mungkin anda pernah dengar tentang Bacha Bazi atau Bacha  Beeresh. Baca bazi berarti "main dengan si thole si ujang" dan bacha beeresh berarti cowok tanpa brewok (emang belum tumbuh brewok nya karena masih dibawah umur). Para bacha bazi berperan sebagai penari, dan mereka dandan seperti perempuan. Mereka menari bagi para lelaki yang lebih tua dari dia tentu saja. Bacha bazi ini biasanya direkrut (atau diculik) dari keluarga miskin. Mereka diajari musik dan menari. Tentu saja bacha bazi ini juga bisa disewa untuk keperluank esek esek, oleh the highest bidder dari para penonton yang kebanyakan adalah orang orang berpengaruh dan kaya di Afghanistan. Documentary dari bacha bazi bisa dilihat dari karya journalist Najibullah Quraishi dari Afghanistan yang berjudul "The Dancing Boys of Afghanistan". Homoerotic activity dalam agama Agama Islam jelas jelas melarang praktek homosexuality. Tapi saya tak yakin bahwa Islam berhasil memberangus homosexuality, karena praktek ini sudah mendarah daging dalam kehidupan lelaki jauh sebelum kedatangan Islam. Disinyalir di dunia Arab sana homosexuality adalah sesuatu yang terselubung. Akan lebih aman berduaan antara pria daripada berduaan antara pria dan wanita. Christianity aslinya juga melarang homosexuality. Tapi sekarang jelas tak lagi begitu dilarang, ini dibuktikan dengan adanya kawin sejenis yang makin lama makin populer saja di negara negara Barat yang identik dengan negaranya orang orang yang menganut Christianity. Namun tak semua agama melarang praktek homosexuality. Bila ada agama yang tolerant dan menghormati sexuality, saya harus pilih itu adalah agama Buddha, terutama Zen Buddhism di Japan. Zen Buddhism tidak melarang homoerotic activity. Ini dibuktikan dengan adanya Nanshoku dalam kehidupan para obosan (biksu). Nanshoku adalah hubungan erotic antara adolescent dan orang dewasa. Di Japan juga ada istilah Chigo dan banyak naskah naskah kuno yang mengisahkan tentang chigo. Chigo adalah anak laki laki yang biasanya berusia antara 7 sampai 14 belas tahun yang tinggal di pura Buddha bersama sama para pendeta Zen. Tentu saja Chigo ini adalah peliharaan para praktisi Zen Buddhism tsb dan terlibat homoerotic activity diantara mereka. Chigo biasanya menempati status yang lumayan bagus diantara para pendeta Zen dan ini dibuktikan dengan adanya perkataan " Ichi chigo ni sanmo". Bila anda tahu sedikit bahasa Jepang tentu bisa mengira ira artinya. Nomor satu adalah Chigo, Tuhan nomor dua. Tapi dalam kalimat aslinya terkandung makna yang legit dan kedengaran rhymist yang agak sulit dialih bahasakan.

Fungsi Chigo tentu saja adalah sebagai catamite yaitu pihak yang pasif dalam homosexual relationship. Tapi karena Chigo ini adalah kesayangan pendeta senior maka dia sangat perhatikan kesejahteraannya, mulai dari kebersihan dirinya yang diurusi oleh para biksu junior dan juga kesejahteraan lainnya. Mereka juga berfungsi sebagai page boy bila ada perayaan dan si chigo berpakaian yang glamoruous dan kelihatan bak celestial being(makhluk surga). Dalam cerita Chigo no shooshi, saking berharganya nilai seorang chigo, para biksu junior pun dikisahkan saling berebut untuk mempersiapkan bagian belakang dari si chigo tersebut agar obosama (kepala biksu) yang sudah udzur bisa dengan gampang bermain dengan si chigo. Para biksu junior akan minta ijin pada si chigo agar diberikan kesempatan pertamax untuk mengoleskan rempah rempah dan lubricant. Dan dengan elegant nya si chigo pun menentukan pilihannya. Di Japan, pada periode Heian jidai (794-1185), pantangan terhadap sex dalam agama Buddha di artikan pantangan sex dengan perempuan, tapi bukan sex diantara lelaki. Sex diantara obosan dengan chigo dianggap sebagai bido (beautiful way). Japanese Buddhism cenderung mengajarkan bahwa niat dan hasil adalah yang diutamakan, sedangkan caranya apa saja boleh. Sex antar jenis dipandang sebagai cara untuk berkomunikasi dan mendekat dengan Buddha dan disamping itu menciptakan spiritual bond yang lebih mendalam diantara para biksu (karena kashiki atau newbie dalam pura biasanya juga terlibat homoerotic activity dengan para biksu lainnya). Nanshoku biasanya berakhir bila si chigo telah meninggalkan masa puber nya atau meninggalkan biara tentunya. Biasanya si nenja (the opposite role of catamite) harus melakukan sumpah resmi bahwa dia tak akan melakukan infidelity dengan sang chigo.  Nanshoku juga menjalar ke kelas Samurai, tapi mereka punya kode etik tersendiri dengan homoerotic act mereka. Sekian dulu dech, have a lovely evening everyone.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar