Rabu, 15 Juli 2015

Gay Cari Mangsa di Stasiun Kereta Api

http://www.kompasiana.com/ragile/gay-cari-mangsa-di-stasiun-kereta-api_550173cb8133110a1afa83b3

Gay Cari Mangsa di Stasiun Kereta Api
Pengalaman dikerjain gay atau homo

Saya tertidur sangat pulas di kamar hotel dengan pemuda tampan itu, lalu ketika terjaga tiba-tiba saya rasakan  tangan kirinya memeluk tubuhku. Spontan saya kibaskan tangannya dengan hati berdebar. Dan ketika menggeliat jantungku kian bergolak. Sialan, dia telah membuka ikat pinggangku, resleting bluejeansku, dan menurunkan celana dalamku. Ternyata pemuda ganteng yang mengaku pembalap motor ini telah berusaha memperkosaku ketika saya tertidur sangat pulas. Untung terjaga sebelum terlalu jauh dia... Ah, begitu hebat aktingnya hingga saya tidak curiga bahwa dia adalah seorang gay/homo agresif yang menggiringku dari Stasiun Kereta Api Jatinegara Jakarta Timur menuju sebuah hotel agar sekamar  lalu "digarap".

 PENDEKATAN DI STASIUN KERETA API
Awal Juli 2011 saya sedang bersiap-siap keliling beberapa kota di Jawa Tengah. Karena beberapa hal perjalanan ditunda lalu menginap di Stasiun Jatinegara Jakarta Timur. Sebagai warga Jakarta saya yakin stasiun kereta adalah tempat yang aman sepanjang 24 jam. Itu terbukti. Malam pertama aman. Tapi malam kedua ketemu seorang pemuda usia kira-kira 25tahun. Saya duduk di bangku panjang peron. Dialah yang mendekatiku. Ngajak ngobrol, kenalan, hingga akrab. Itu terjadi sekitar pukul 23:00 hingga 02:00. Dia kasih nomor HP: 08180968xxxx. Namanya si "A" (sebut saja begitu untuk mudahnya). Mulanya saya duga dia seorang gay/homo ketika melihat anting di salah satu telinganya. Dia memperkenalkan diri sebagai seorang pembalap motor dari sebuah kota di pulau Jawa. Namanya "A" (sebut saja demikian) mengaku baru ikut lomba balap motor tingkat nasional. Dia mengaku terpaksa menginap di stasion karena telat mengejar kereta pukul 20:00 sehingga harus menunggu untuk kerete berikutnya pada pukul 06:00 esok harinya untuk pulang. Untuk mengikis kecurigaanku, dia perlihatkan daftar mantan cewek dengan memperlihatkan kepadaku foto-fotonya dari dua buah Handphone. Di punggungngya dia bawa tas gendong yang katanya berisi pakaian dan sebuah laptop. Berjam-jam ngobrol, saya menangkap kesan bahwa si "A" adalah pemuda pembrani anak seorang perwira yang telah bercerai dengan ibu si "A". Penampilan dan latar belakang keluarganya nampak dari kalangan menengah ke atas. Dia suka clubbing sampai pagi hari. Ngobrol-ngobrol sekitar 4 jam nyaris tidak ada kesan bahwa dia seorang gay/homo. Atau, jangan-jangan, dia berusaha keras untuk mengikis kesan itu dari pikiran saya dengan mengalihkan perhatian dengan topik pembicaraan yang menarik.
13111971031634704494
Stasiun Kereta Api Jatinegara Jakarta Timur (beritajakarta.com)
Tiba-tiba saya ngantuk berat setelah disodori rokok Djie Sam Soe.
Setelah ngobrol sejam lebih, kami jadi akrab di peron stasiun di antara sekitar 80 orang yang begadang di sana.Si "A" selalu meminta agar saya menghisap rokok Djie Sam Soe yang dia bawa setiap kali saya akan merokok Djarum Super milikku. Entah kebetulan atau tidak tiba-tiba saya ngantuk berat. Dan tiba-tiba dia mengajakku menginap di hotel. Dia bilang takut sendirian di kamar hotel karena pernah mengalami insiden diganggu oleh hantu sehingga meminta saya menemani tidur sekamar. Saya menolak, hanya bersedia mencarikan hotel sekitar stasion kereta Jatinegara, mendrop sampai Front Office Hotel, lalu balik lagi ke stasion kereta. Si "A" tidak menyerah. Upaya membawaku sekamar dalam hotel dilakukan dua kali. Nah, di sela-sela itu dia cerita bahwa karir balap dan hubungan cinta dengan ceweknya hancur gara-gara sebuah SMS mesra dari seorang pria yang mencintainya layaknya kekasih. Pria itu (dia panggil "Om") adalah keturunan Arab yang kadang nongol di TV. Saya tahu siapa si Om itu. Tapi kaget bukan maen jika benar kata Si "A" bahwa si Om itu adalah seorang Gay. Di sini si "A" berusaha meyakinkan saya bahwa Si Om adalah gay sedangan dia bukan. Kepadaku dia bilang bahwa besok paginya akan ke kampus menyerahkan skripsi ke dosen, lalu siangnya ada shooting untuk model iklan, dan acara penting lainnya. Dia perlu istirahat tidur tapi di stasiun ini dia bilang tidak bisa tidur karena berisik. Karena kasihan akhirnya saya ikuti kemauannya untuk menemani tidur sekamar di hotel hingga check-out jam 13:00. Sementara kami  cari hotel untuk check-in, kecurigaanku bahwa dia gay sudah sirna 100%. 

KETAWA-KETIWI BERUBAH  JADI HOROR 
Singkat cerita kami sangat ceria malam itu, ngobrol berjam-jam diselingi canda-ria. Hingga sekitar pukul 03:00 masuk kamar hotel tak jauh dari Stasiun Jatinegara untuk tidur. Dalam keadaan letih kami tidur satu kasur dengan pakaian lengkap tanpa ganti. Dia yang bayar semua: transport, makanan, penginapan, dll. Bahkan dia menjanjikan akan kasih uang sekedar transport untukku. Aku menolak tapi dia maksa. Terkesan dia sangat baik hati dan murah hati. Saya yang tidak mudah percaya omongan orang tetap dalam posisi waspada. Begitu kami tidur  saya bermimpi bahwa si "A" adalah seorang gay yang berusaha menjadikan saya kekasihnya atau memaksa untuk berhubungan badan dengannya. Dalam mimpi itu saya menolak dan menasehatinya bahwa saya bukan gay dan anti gay. Tiba-tiba saya terjaga dari tidur. Ya ampun begitu melek, tangan kiri si "A" dalam posisi memeluk tubuhnku. Jantungku berdebur kencang. Dalam hati berkata, "Sialan, kamu mau jadikan aku korban pelecehan seksual". Saya kibaskan tangannya agar tidak memelukku. Saya diam, seakan tidak ada masalah. Eh, begitu mau betulkan selimut, nggak taunya parah betul kelakuan si "A". Betapa kaget saya lihat kemaluanku hampir lepas dari celana dalam. Rupanya si "A" telah melepas sabukku, resleting bluejeansku, dan menurunkan celana dalamku. Spontan saya lari ke toilet untuk memeriksa keadaan kemaluanku. "Syukur belom sempat diapa-apain," kataku dalam hati setelah periksa kemaluan dengan harap-harap cemas. Kebencianku tiba-tiba meluap kepada si "A" yang tadinya nampak sangat baik hati dan sangat murah hati. Dengan hati kesal dan tetap diam saya kembali tidur dengannya. Sebuah guling sengaja saya letakkan sebagi pemisah di antara kami. Itu terjadi sekitar pukul 04:00. Sekali lagi saya mimpi bahwa Si "A" adalah gay/homo yang sedang cari kekasih seorang pria. Sekali lagi saya terjaga. Dan.... hmm, sekali lagi tangan kiri si "A" dalam posisi memeluk tubuhku. Spontan aku lempar tangannya agak keras. Itu terjadi sekitar pukul 06:00, saya keluar kamar, lalu sarapan pagi dengan "breakfast coupon". Si "A" tidak mau diajak sarapan. Saya tau dia kecewa bahwa mangsanya (saya) gagal digarap tapi saya pura-pura cuek. Penasaran ingin tau saya sampai di mana kenekatannya. Saya putar otak, kalo dia macem-macem mungkin saya habisi dia (atau saya bunuh) karena sudah menjurus pemerkosaan!!! Segala kemungkinan  saya perhitungkankan. Bagi saya pemerkosaan ini urusan hidup atau mati, apapun siap saya lakukan untuk membela diri. Tak peduli si "A" ngaku dirinya berkali-kali bahwa dia jago duel. Kebetulan dia berbadan atletis. Rupanya itu gertakan agar saya nurut. Singkat cerita jelang check-out jam 13:00 siang tabir tersingkap. Dia lakukan pengakuan. Kami ngobrol santai tapi dia grogi. Kedua mataku sudah aku tancapkan untuk menantang dengan menatap kedua bola matanya tanpa kedip. Dia memelas. Bahwa dia sangat ingin kembali baikan dengan si Om turuan Arab kekasih gay-nya. Si Om itu katanya sangat sayang, apapun keinginan si "A" diberi. Uang dan harta melimpah. Dia juga promosi bahwa kekasih sesama jenis jauh lebih sayang daripada kasih sayang yang diberikan kekasih perempuan. Saya katakan kepadanya, "Itulah masalahmu. Selama kamu berada di duniamu itu selama itu pula kamu dililit masalah. Tinggalkan semua itu kalo kamu ingin lepas dari penyakitmu. " Dia merengek, "Wah, Om Agil... jangan-jangan setelah tau keadaan saya begini, Om tidak mau kenal lagi dengan saya." Saya santai, "Gue nggak pilih-pilih teman, hehe... Tapi jaga jarak dengan orang yang membahayakan diri gue, dong..." Pukul 13:00 siang dia permisi mau check-out. Begitu dia check-out di Front Office, sementara saya berkemas-kemas di kamar untuk menyusul, dia menghilang. Lenyap bagai ditelan bumi. Wajahnya selalu menghantuiku sepanjang hari. Bahkan menghantui hingga sepekan kemudian. Syukur dia sudah pergi. Horor seks sesama jenis sudah lewat. Aku kasihan kepadanya tapi juga benci - sangat benci - dia berusaha memperkosaku di saat aku tertidur lelap. Dan tidak pernah menyesal/minta maaf. 

*** By Ragile, 21-jul-2011 
*) setelah peristiwa tsb sirnalah kesan selama ini dalam diri saya bahwa gay/homo sangat santun dalam upaya memperoleh kehendaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar