Jumat, 17 Juli 2015

Diperkosa


http://gay-stories-kali.blogspot.com/2013/01/diperkosa.html?zx=484d9d5332bd1ea7

Tidak puas dengan keadaan perkakasku yang ukurannya cuma 18 cm, saya mencoba untuk mendatangi salah seorang bapak yang iklannya saya baca dari pos kota. Dengan iming-iming dapat menambah ukuran. Sengaja saya pilih datang pada sore hari setelah selesai jam kerja. Dengan mudah tempat prakteknya saya temukan, tidak ada antrian didepan tempat prakteknya sehingga otomatis saya tidak perlu menunggu lama. Setelah masuk ke dalam rumahnya, disana saya harus memberikan data- dataku terlebih dahulu dan membayar biaya administrasi. Setelah dipersilahkan duduk dan menunggu selama 5 menit, akhirnya saya dipanggil masuk oleh si pemuda yang tadi menulis data-dataku. Memasuki ruangan prakteknya, sempat membuatku terpana melihat dekorasi ruangannya yang agak berkesan mistis. Segera saja saya duduk bersila menyampaikan keinginanku kepada si bapak yang duduk didepanku sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Disamping si bapak ada seorang pemuda berbadan kekar duduk mendampinginya, yang saya anggap pasti adalah asistennya. Setelah tahu keinginanku, maka saya dipersilahkan untuk terlebih dahulu mandi. Saya berjalan ditemani asistennya yang berbadan kekar menuju kekamar mandi. Memasuki kamar mandi saya berbalik ingin menutup pintu, tetapi langsung dicegah oleh si asisten. Katanya dia harus ikut memandikan saya, karena ini adalah syarat yang sudah ditentukan. Perlahan-lahan mulai kutanggalkan baju dan celanaku.

Setelah bugil, saya disuruh berkumur- kumur terlebih dahulu menggunakan air yang telah diberi ramuan. Lalu si asisten mulai melolosi pakaiannya dan akhirnya bugil juga. Saya sempat kaget dan bertanya, tetapi sang asisten mengatakan kalau dia tidak mau bajunya ikut basah pada saat memandikanku. Maka mulailah sang asisten menyuruhku jongkok dan memberi shampoo pada rambutku dan mulai menyabuni tanganku, badanku,
kakiku, dan sekarang perkakasku. Khusus perkakasku disabuni dengan gerakan seperti lagi ngocok. Rasanya risih juga perkakasku dipegang sesama laki-laki. Karena tidak tahan, perkakasku mulai ereksi. Apalagi saat jarinya melakukan putaran melingkar pada perkakasku ditambah dengan licinnya busa sabun yang membuat geli kepala perkakasku.Setelah puas, tangannya turun menuju keanusku. Sambil menyabuni lubang anusku, jari telunjuknya mulai menusuk lubang anusku maju mundur. Sehingga membuat perkakasku semakin tegak. Akhirnya dia mengguyurkan air ketubuhku. Setelah selesai si asisten mengeringkan tubuhku dengan menggunakan handuk, kemudian saya diperkenankan keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan sehelai handuk kecil yang tidak dapat menutupi perkakasku yang sedang ereksi. Saya berjalan menuju ruang praktek.

Di dalam ruangannya saya dipersilahkan berbaring dalam keadaan bugil dengan kaki yang mengangkang. Dan si bapak mulai memijat tubuhku dari atas dan terakhir mengenggam perkakasku serta mulai mengurut seperti
gerakan ngocok dan membetot-betot batang serta zakarku. Si bapak mengatakan kalau dia ingin memasukkan sesuatu kedalam lubang anusku dengan cara menggunakan bantuan dorongan perkakasnya. Tentu saja saya keberatan, karena takut memikirkan rasa sakit pada lubang anusku. Saya berusaha untuk bangun dari dipan dan mencoba menolak keinginan si bapak. Tapi dengan sekali panggil, si asisten dan si pemuda segera masuk kedalam ruang praktek. Dan tanpa dikomando mereka memegang tangan serta kakiku yang dengan paksa dikangkangi sampai lubang anusku dapat terlihat dengan mudah oleh si bapak. Saya berusaha untuk meronta. Tapi sia-sia, si bapak mulai menanggalkan baju dan celananya. Sempat kelirik kalau ternyata perkakas si Bapak sangatlah gede. Dengan paksa si bapak mengoleskan sesuatu kelubang anusku dan menusuk-nusukkan jarinya. Badanku mulai bergerinjal menahan rasa sakitnya. Belum sempat bicara, perkakas si bapak mulai dipaksakan masuk kedalam lubang anusku. Si asisten dan si pemuda semakin kuat memegang kakiku dan ditarik terbuka. Sehingga kangkangan kakiku semakin lebar. Perkakas si Bapak semakin dalam memasuki lubang anusku, yang
membuatku menjerit kesakitan.

Tanpa belas kasihan akhirnya si bapak berhasil memasukkan perkakasnya keseluruhan. Hal ini dapat saya rasakan karena disekitar anusku mulai digelitiki oleh bulu-bulu perkakas si bapak. Setelah beberapa saat, saya mulai merasakan semprotan demi semprotan hangat memenuhi lubang anusku. Si bapak mencabut perkakasnya dan menuju kearah mukaku dan memasukkan dengan paksa perkakasnya yang baru keluar dari lubang anusku kedalam mulutku. Serasa mau muntah saya merasakan perkakasnya. Sekali lagi saya menjerit karena kaget merasakan perkakas si asisten mulai menerobosi lubang anusku. Si pemuda dengan setianya mengocok dan mengulum perkakasku yang kini sangat tegak berdiri. Akhirnya air mani si asisten menyemprot memenuhi lubang anusku. Dan sekarang giliran si pemuda membobol lubang anusku lagi. Sedang si asisten menggantikan posisi si pemuda untuk mengulum dan mengisap perkakasku. Karena sangatlah tegang, kini air maniku tersemprot keluar juga memenuhi mulut si asisten yang langsung menelan dan menyedot habis air maniku. Si asisten kini memaksakan perkakasnya untuk memasuki lubang anusku lagi. Benar- benar kacau, karena didalam lubang anusku masih terganjal perkakas si pemuda. Saya hanya dapat menjerit tertahan karena mulutku masih tersumpal perkakas si Bapak. Air mani si bapak akhirnya tersemprot juga memenuhi mulutku, dan kini dapat kurasakan semprotan air mani yang sangat banyak memenuhi anusku dan ususku yang tersembur dari dua perkakas yang berbeda. Saat si pemuda dan si
asisten mencabut perkakasnya, saya merasakan sakit yang amat sangat pada anusku. Saya hanya dapat mengerang memegang anusku yang pada saat saya raba terasa sangat perih dengan lubang anus yang membesar dan agak menonjol membengkak. Perkakasku terlihat agak memanjang, tetapi saya yakin karena tadi ereksinya terlalu berlebihan.

Dan ketika kulihat keesokan harinya, ukuran perkakasku tetap saja sama. Hanya lubang anusku yang agak berbeda ukurannya karena telah diperkosa oleh si bapak dan kaki tangannya. Untuk mengadukan perbuatan mereka, tentu saja tidakmungkin. Karena saya sendiri juga yang akan menanggung malunya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar