Rabu, 15 Juli 2015

Pengalaman dengan Sesama Pria

http://qisahserru.blogspot.com/2011/04/pengalamanku-dengan-sesama-pria-1.html

Aku adalah seorang pemuda yang berasal dari salah satu kota kecil di daerah Riau dan pada saat ini berdomisili di kota Pekanbaru. Aku berada di Pekanbaru sejak kelas 2 SMP hingga saat ini aku sudah punya pekerjaan tetap dan memiliki kendaraan dan rumah sendiri walaupun tidak terlalu mewah. Aku tinggal sendirian di Pekanbaru sementara keluargaku tinggal di kota kecil kelahiranku. Boleh dibilang kehidupanku saat ini sudah cukup mapan dan bebas tentunya. Di kota ini juga aku pernah menjadi anggota TNI AD selama lebih kurang 2 tahun. Kurasa tidak perlulah aku jelaskan dari kesatuan yang mana.

Sebut saja namaku Bobby. Sehari-hariku adalah orang yang cukup tegas, macho dan tidak kewanita-wanitaan. Umurku dua puluh delapan tahun. Wajahku menurut orang cukup tampan dan jantan. Tubuhku sangat ideal dengan bahu lebar, dada bidang menonjol, perut yang seperti papan cuci dan pinggang yang ramping dan tinggi 178 cm berkat latihan yang ketat dan penuh disiplin sebagai anggota TNI yang pernah kujalani itu. Dan sekarang aku rajin fitness dan mengatur pola makan untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sexy. Bukan sombong lho, aku sendiri cukup betah kalau bercermin sambil onani.

O ya, aku menyadari kalau aku gay saat SMA dan tentu saja saat itu saya belum menjadi tentara. Sejak remaja aku selalu senang jika melihat cowok macho dan ada debaran aneh gitu. Setelah menemukan artikel di suatu majalah baru aku tahu kalau itu disebut homoseks atau gay. Aku sempat menjadi minder dan agak tertutup dalam pergaulan. Aku juga sangat hobi onani sejak masih SMP dan sampai saat ini aku masih melakukannya dengan beragam cara dan teknik. Atau dengan kata lain aku onani sebelum punya air mani sampai saat ini dengan air mani seabrek.

Waktu itu aku sempat mengenal seorang teman cowok yang usianya lebih tua dariku. Sebut saja Anton. Aku mengenalnya karena menemukan dompet yang tercecer di jalan yang setelah kulihat isinya ada keterangan tentang alamat pemilik sehingga aku memberanikan diri untuk mengembalikan dompet tsb. Rupanya dompet itu milik seorang cowok yang perawakannya sedang dengan body yang cukup kokoh. Wajahnya imut dan sangat ramah. Saat itu dia bermaksud memberikan imbalan karena dompetnya kukembalikan namun aku menolaknya. Ia lalu mempersilahkanku masuk dan kami saling berbincang-bincang tentang diri masing-masing. Rupanya ia adalah eksekutif di salah satu perusahaan swasta di Riau. Kami cepat menjadi akrab dan sejak saat itu aku sering jalan ke rumahnya yang penuh fasilitas dan membuatku betah dan Antonpun tampaknya tidak keberatan dengan kehadiranku. Akupun merasa tidak ada yang aneh dengan semua itu. Sampai pada suatu hari aku menyadari kalau Anton juga seorang gay.

Suatu hari ketika aku jalan ke rumahnya (dia tinggal sendirian), saat dia sedang di dapur aku melihat di meja ruang tamu ada majalah asing yang covernya ada bule macho telanjang. Aku langsung mengambil dan membolak-baliknya. Di dalamnya ada gambar 2 cowok yang lagi bertelanjang ria dengan berbagai pose. Ada yang sedang mengisap perkakas temannya, ada yang sedang mengocok batang perkakas dan ada yang perkakasnya masuk ke lubang pantat temannya. Saat itu aku merasa jantungku berdegup kencang dan perkakasku mulai mengeras dan terasa ada sedikit cairan yang keluar. Rupanya ekspresiku sudah diamati sejak tadi oleh Anton yang berdiri di pintu dapur yang tidak kusadari karena mataku tidak lepas dari majalah itu. Aku tergagap dan salah tingkah saat kusadari Anton sudah ada di depanku dengan wajah penuh senyum. Aku sangat malu sekali dan cepat-cepat meletakkan majalah pada tempat semula. Rasanya seperti ingin segera menghilang dari sana saja.

Anton tersenyum maklum sambil berkata, “Tidak perlu malu kok, Bob. Itu adalah majalah kesukaanku. Kalau kamu mau masih ada lagi”
Aku hanya tersipu-sipu sambil menundukkan kepala. Anton kemudian pindah duduk di sampingku yang semakin membuatku salah tingkah.
Kemudian dia memegang bahuku sambil berkata dengan lembut, “Wajar saja kok. Dulunya aku juga seperti kamu, merasa malu dengan keadaan diri sendiri yang dianggap tidak wajar. Namun sebagai teman aku ingin berbagi rahasia denganmu kalau aku sebenarnya gay”
Dadaku semakin berdebar kencang karena pengaruh majalah yang belum hilang.
Anton kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik di telingaku, “Aku sebenarnya sangat suka padamu, kamu tidak keberatan bukan?”

Aku merasakan nafasnya yang menerpa pipiku yang membuatku makin terangsang, namun aku tetap diam saja. Melihat aku yang diam Anton mulai mencium pipiku, kemudian merambah ke bibir. Karena baru pertama kali dicium sesama cowok perasaanku saat itu aneh, tegang, terangsang dan takut yang berbaur menjadi satu membuat nafasku agak terengah, namun aku tidak berani membalas ciumannya. Anton meneruskan aksinya dengan membuka kaos yang kukenakan kemudian melumat dada dan putingku dengan nafsunya sehingga aku keenakan hingga tanpa sadar aku mendesah kecil. Tanganku secara refleks mulai meremas-remas bahu Anton. Hanya sebatas itu karena aku masih lugu. Tindakanku rupanya semakin membuat Anton terangsang. Posisiku saat itu masih duduk di sofa sementara Anton ada di depanku sambil terus beraksi.

Anton mulai membuka ritsleting dan kancing celanaku, menurunkan CD sehingga perkakasku yang sudah tegang sejak tadi bebas mencuat dengan kepala yang membasah licin oleh lendir bening. Saat itu aku sudah telanjang bulat dengan celana yang melorot sampai mata kaki tapi Anton masih berpakaian lengkap. Sejenak Anton seperti terpesona melihat perkakasku yang memang berukuran besar walaupun masih belum 100% matang. Saat ini perkakasku panjangnya lebih kurang 19 cm dan batangnya gemuk merata yang tentunya udah matang abis.

Anton lalu melumat perkakasku dengan lahap sambil memajumundurkan kepalanya yang membuatku mengerang saking tidak tahan oleh rasa nikmat yang belum pernah kurasakan. Tidak berapa lama kemudian aku mulai merasa kalau air maniku hampir ditembakkan, tubuhku mulai menegang dan rupanya Anton juga sepertinya tahu dan dia semakin ganas mempermainkan perkakasku. Akhirnya.. aku menembak beberapa kali di dalam mulut Anton tanpa sempat permisi lagi. Rasanya enak sekali sampai langit ketujuh). Anton dengan lahap menelan semua mani yang ada dalam mulutnya dan juga menjilat sampai bersih perkakasku. Anehnya setelah aku nembak, aku mulai merasakan perasaan berdosa dan takut sehingga aku cepat-cepat menaikkan celanaku dan menyambar kaosku mengenakannya dengan terburu-buru. Hampir berlari aku segera meninggalkan rumah Anton. Sekilas aku melihat Anton yang saat itu masih horny sepertinya ingin mencegahku namun aku tetap saja berlalu dengan cepat.

Sejak saat itu aku tidak pernah lagi mengunjungi Anton. Anton juga sama sekali tidak pernah mencoba menghubungi atau mencari ke alamatku yang membuatku merasa lega. Aku mulai membatasi pergaulanku untuk mencegah agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Cara lain yang kujalani adalah kalau sudah terangsang aku selalu onani di kamar atau kamar mandi sampai puas yang penting perkakasku tidak mengeras di hadapan cowok lain. Cara tersebut cukup berhasil meredam keinginanku untuk melakukan hubungan secara fisik dengan cowok lain, namun fantasiku tentang hubungan gay semakin beragam dan bervariasi sejalan dengan bertambahnya usia dan semakin canggihnya dunia informasi dengan kehadiran internet yang punya info seabrek tentang dunia gay.

Sekarang aku sudah mulai bisa menerima kalau diriku gay. Dan kalau dipikir-pikir kasihan juga si Anton karena saat itu aku sudah nembak dan puas sedangkan dia belum. Tapi hitung-hitung dia sudah menelan maniku yang enak itu (aku tahu karena sering menelan punyaku sendiri saat onani). Aku juga mulai merasa kalau Anton sebenarya cowok yang gentle. Logikanya dia dapat saja mencampurkan obat perangsang atau obat tidur ke dalam minuman saat aku berkunjung ke rumahnya kemudian memperkosaku. Namun hal itu tidak dilakukannya sama sekali. Dia juga tidak berupaya keras mencegah kepergianku saat itu yang semakin membuktikan kalau dia adalah tipe idaman sebagai pasangan teman sehati. Sejujurnya aku cukup rindu padanya. Kalau pembaca sekalian bertanya kenapa aku tidak berkunjung saja ke rumahnya lagi jawabannya aku sudah melakukannya. Namun rupanya rumah itu sudah tidak ditempati Anton lagi. Aku juga sudah mencoba menghubungi perusahaan tempat Anton bekerja dan rupanya Anton sudah pindah tugas ke lain kota
*****

Seperti yang telah kuceritakan di atas, sejak kejadian dengan Anton aku membatasi diri sehingga tidak pernah melakukan ‘itu’ lagi sama cowok benaran (kalo sama cowok dalam fantasi sering).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar